Mengenal Agentic AI, Berpotensi Jadi Penggerak Utama Ekonomi Digital ASEAN
Kontribusi AI terhadap perekonomian global diperkirakan akan mencapai USD15,7 triliun, yang menunjukkan besarnya dampak teknologi ini.
Para pemimpin di sektor teknologi finansial dan asuransi percaya bahwa Agentic AI berpotensi menjadi penggerak utama dalam meningkatkan produktivitas serta pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara. Agentic AI sendiri merupakan bentuk kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan khusus untuk memahami konteks, membuat keputusan secara mandiri, dan bertindak intuitif tanpa perlu campur tangan manusia secara langsung.
Dalam sebuah diskusi yang berlangsung di Dyna Day 2025 di Jakarta baru-baru ini, Andreas Tjendra, seorang penasihat pada AI National Roadmap menggarisbawahi potensi ekonomi yang dimiliki oleh AI, baik di tingkat global maupun di Indonesia.
Kontribusi AI terhadap perekonomian global diperkirakan akan mencapai USD15,7 triliun, yang menunjukkan besarnya dampak teknologi ini.
“Di Indonesia sendiri, World Bank memproyeksikan dampak AI bisa mencapai hingga 10 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto) nasional,” ungkap Andreas pada acara yang diselenggarakan oleh Dyna.Ai, seperti yang dilaporkan pada Jumat (26/9).
Ia juga menambahkan bahwa meskipun Indonesia pernah tertinggal dalam revolusi industri sebelumnya, saat ini negara ini berada dalam posisi yang strategis untuk menjadi pemimpin dalam apa yang disebutnya 'Revolusi Nasional AI', berkat populasi yang besar dan percepatan dalam adopsi digital.
Kesiapan Industri Lokal Adopsi Teknologi AI
Kesiapan industri lokal dalam mengimplementasikan teknologi AI menjadi salah satu perhatian utama. Menurut Wakil Sekretaris Jenderal II Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Saat Prihartono, perusahaan fintech di dalam negeri telah berada pada posisi yang sangat siap untuk mengadopsi teknologi ini, dengan pernyataan bahwa mereka telah mencapai tahap 'beyond ready and beyond aligned'.
Meskipun begitu, ia mengakui adanya berbagai tantangan yang masih harus diatasi, seperti kurangnya talenta yang mumpuni, infrastruktur yang belum memadai, serta keterampilan yang diperlukan untuk penerapan di lapangan.
Walaupun demikian, Prihartono tetap optimis tentang masa depan teknologi ini. "AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas, menyederhanakan proses operasional, dan memperkuat keterlibatan pelanggan, sehingga mendorong terciptanya ekosistem keuangan yang lebih dinamis."
Dengan potensi tersebut, diharapkan industri dapat mengatasi kendala yang ada dan memaksimalkan manfaat dari teknologi AI untuk kemajuan yang berkelanjutan.
AI Bersifat Agensif Menyelesaikan Tantangan Penting di Industri
Dari sektor asuransi, dr. Dian Budiani yang menjabat sebagai Kepala Departemen Klaim dan Manfaat Asuransi Jiwa Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mengungkapkan bagaimana Agentic AI dapat berfungsi sebagai solusi dalam menghadapi tantangan yang kompleks di industri ini.
"Peningkatan klaim kesehatan, proses bisnis yang rumit, serta rendahnya kepercayaan konsumen merupakan tantangan utama. Agentic AI dapat menjadi solusi transformatif dengan menyederhanakan proses klaim, meningkatkan efektivitas deteksi fraud, dan menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih unggul," jelas Dian.
Di sisi lain, Lawrence Lu yang merupakan Managing Director dan Head of Southeast Asia Dyna.Ai, menjelaskan bagaimana solusi yang ditawarkan perusahaannya dapat menghubungkan praktik terbaik global dengan kebutuhan pasar lokal yang spesifik. Ia mengungkapkan bahwa Agentic AI Dyna.Ai dirancang untuk dapat beradaptasi dengan konteks budaya dan realitas bisnis di Indonesia.
"Menggabungkan otomatisasi dan wawasan lokal, kami membantu organisasi untuk berkembang lebih cepat, melakukan personalisasi layanan, serta membangun kepercayaan jangka panjang dengan pelanggan," klaim Lawrence.