Kemkomdigi Dorong Pemanfaatan Agentic AI untuk Kebijakan Publik yang Lebih Adaptif
Sekretaris Jenderal Kemkomdigi, Ismail, mengungkapkan potensi besar Agentic AI sebagai instrumen strategis untuk merumuskan kebijakan publik yang presisi dan adaptif di era digital.
Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Ismail, menyoroti pentingnya Teknologi Agentic Artificial Intelligence (Agentic AI) sebagai instrumen strategis negara. Pemanfaatan ini bertujuan mendorong kebijakan publik yang lebih presisi, adaptif, serta berbasis data di era digital. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Governance Agentic AI di Jakarta Pusat pada Rabu, 28 Januari.
Acara ini juga dirilis melalui siaran pers resmi, menegaskan bahwa penguasaan Agentic AI menjadi krusial bagi pemerintah. Hal ini diperlukan agar pemerintah mampu membaca pola hidup digital masyarakat secara komprehensif. Dengan demikian, perumusan kebijakan dapat benar-benar tepat sasaran dan relevan.
Ismail menjelaskan, pola hidup masyarakat saat ini terekam melalui berbagai platform digital, seperti mesin pencari, aplikasi percakapan, media sosial, hingga marketplace. Namun, pemerintah seringkali belum memiliki kapasitas yang cukup untuk membaca sumber data tersebut secara utuh. Akibatnya, banyak kebijakan publik, termasuk di sektor pariwisata dan transportasi, kerap kali tidak tepat sasaran.
Pentingnya Agentic AI untuk Kebijakan Publik yang Presisi
Ismail menegaskan bahwa isu utama bukanlah kepemilikan data, melainkan aksesibilitas dan kemampuan negara dalam membaca pola secara agregat. Pembacaan pola ini harus dilakukan demi kepentingan publik, tanpa melanggar privasi dan prinsip hukum yang berlaku. Dengan Agentic AI, pemerintah dapat menganalisis data besar untuk memahami kebutuhan masyarakat secara lebih mendalam.
Kemampuan Agentic AI dalam mengolah informasi dari berbagai sumber digital memungkinkan pemerintah mendapatkan gambaran utuh mengenai perilaku dan preferensi masyarakat. Hal ini krusial untuk merancang kebijakan yang responsif dan sesuai dengan dinamika sosial. Penerapan teknologi ini diharapkan dapat mengatasi ketidaksesuaian kebijakan yang sering terjadi sebelumnya.
Teknologi Agentic AI menawarkan solusi inovatif untuk tantangan dalam perumusan kebijakan publik yang efektif. Dengan analisis data yang lebih canggih, pemerintah dapat mengidentifikasi tren, memprediksi kebutuhan, dan mengalokasikan sumber daya dengan lebih efisien. Ini menjadi langkah maju dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang adaptif dan berorientasi pada masyarakat.
Agentic AI Dorong Kedaulatan Digital dan Peluang Ekonomi Nasional
Selain presisi data, Ismail juga menyoroti peran penting Agentic AI dalam memperkuat kedaulatan digital Indonesia. Teknologi ini berpotensi membuka peluang ekonomi nasional yang signifikan. Pengembangan Agentic AI juga diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja bernilai tambah bagi talenta digital di Indonesia.
Ismail menjelaskan bahwa banyak solusi kecerdasan buatan membutuhkan penyesuaian dengan konteks Indonesia. Jika Indonesia hanya mengadopsi teknologi jadi dari luar, maka akan selalu berada di posisi paling bawah dalam rantai inovasi. Agentic AI memberikan kesempatan bagi anak-anak bangsa untuk mengembangkan solusi yang relevan dengan kebutuhan spesifik nasional.
Pengembangan Agentic AI secara mandiri akan mendorong inovasi lokal dan mengurangi ketergantungan pada teknologi asing. Ini adalah langkah strategis untuk membangun ekosistem digital yang kuat dan berdaulat. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi pemain kunci dalam pengembangan teknologi AI global, bukan hanya sebagai konsumen.
Kerangka Etika dan Peran Kemkomdigi dalam Pengembangan Agentic AI
Dalam implementasinya, Ismail menekankan perlunya kerangka etika dan batasan yang jelas sejak awal pemanfaatan Agentic AI. Hal ini esensial untuk meminimalkan risiko dan memastikan teknologi berjalan secara bertanggung jawab. Pembentukan kerangka ini akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan AI yang berkelanjutan.
Ismail menyatakan bahwa isu ini bukan semata soal teknologi, tetapi juga tentang membangun sistem dan budaya yang tepat. Harus ada kejelasan mengenai batas-batas hukum, etika, dan bagaimana mitigasi risiko dapat dilakukan secara nyata dan implementatif. Pendekatan holistik ini akan menjaga kepercayaan publik terhadap teknologi.
Untuk mendukung pengembangan ini, Ismail menegaskan peran Kemkomdigi sebagai orkestrator infrastruktur AI nasional. Skala investasi dan kompleksitas yang tinggi membuat pengembangan ini tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada pihak swasta secara terpisah. Kemkomdigi akan memastikan arah pengembangan sesuai dengan kepentingan nasional.
Sinergi Pemangku Kepentingan untuk Ekosistem Agentic AI Indonesia
Ismail juga menegaskan bahwa Indonesia adalah negara besar dengan kebutuhan yang besar pula. Oleh karena itu, infrastruktur AI harus diarahkan dan diorkestrasi dengan jelas agar tidak tertinggal. Tujuan utamanya adalah untuk benar-benar mendukung kepentingan nasional dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Ismail mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi. Ini meliputi pemerintah, swasta, akademisi, dan talenta muda Indonesia. Kolaborasi ini penting untuk membangun ekosistem Agentic AI yang berdaulat, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan bangsa.
Ismail menggarisbawahi urgensi untuk memulai pengembangan ini sekarang, dengan prinsip "now or never". Kemkomdigi berharap Agentic AI dapat berkembang di Indonesia dengan arah yang jelas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Sinergi ini akan menjadi kunci keberhasilan dalam mengoptimalkan potensi Agentic AI untuk masa depan Indonesia.
Sumber: AntaraNews