Mendagri Tegaskan Penguatan UMKM dan Produk Halal Kunci Ekonomi Daerah
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyoroti krusialnya penguatan UMKM dan perluasan pasar produk halal demi stabilitas serta pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, baru-baru ini menegaskan urgensi penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai pilar utama perekonomian daerah. Penekanan ini disampaikan dalam keterangannya di Jakarta pada Senin, 9 Maret 2026.
Menurut Mendagri, langkah strategis ini sangat vital untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mengoptimalkan peluang pasar yang terus berkembang pesat. Baik di kancah domestik maupun global, potensi UMKM harus dimanfaatkan secara maksimal.
Penguatan UMKM, bersama dengan perluasan pasar produk halal, dianggap sebagai kunci untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berdaya saing. Hal ini juga menjadi fokus utama pemerintah dalam mendorong kesejahteraan masyarakat di berbagai wilayah.
UMKM: Tulang Punggung Ekonomi dan Pelajaran dari DIY
Mendagri Muhammad Tito Karnavian secara tegas menyatakan bahwa UMKM merupakan tulang punggung utama sektor riil di Indonesia. Peran vital ini terlihat jelas dari kontribusinya yang signifikan terhadap perekonomian nasional dan daerah.
Sebagai contoh nyata, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil menunjukkan pemulihan ekonomi yang impresif pasca-pandemi. Dari angka 0,68 persen pada tahun 2020, ekonomi DIY bangkit menjadi 5,53 persen pada tahun 2021.
Keberhasilan pemulihan ekonomi di DIY tidak lepas dari peran besar sektor UMKM, yang menyumbang 79,6 persen terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut. Data ini membuktikan bahwa penguatan UMKM adalah strategi efektif untuk resiliensi ekonomi.
Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong berbagai program dan kebijakan yang berpihak pada UMKM. Tujuannya adalah agar sektor ini dapat terus berkembang dan menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi di seluruh Indonesia.
Potensi Produk Halal dan Kerajinan Tangan Global
Selain UMKM secara umum, Mendagri juga menyoroti potensi besar Indonesia dalam produk kerajinan tangan yang sangat beragam dan termasuk terbesar di dunia. Potensi ini harus terus dimaksimalkan untuk menembus pasar global.
Produk kerajinan lokal tidak seharusnya lagi dipandang sebagai benda biasa, melainkan sebagai bagian integral dari sektor ekonomi kreatif. Dengan demikian, produk-produk ini memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.
Mendagri juga menyinggung peluang besar di pasar produk halal, yang ironisnya, saat ini didominasi oleh negara-negara non-mayoritas Muslim seperti Tiongkok dan Brasil. Situasi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki pekerjaan rumah besar.
Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas Muslim terbesar, harus mampu bersaing dan mengambil peran sebagai produsen utama produk halal, bukan hanya menjadi konsumen. Ini adalah tantangan sekaligus peluang besar bagi ekonomi nasional.
Digitalisasi dan Pemerataan Ekonomi Daerah
Apresiasi juga diberikan kepada Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) atas pertumbuhan ekonominya yang mencapai 7,89 persen secara year-on-year (y-o-y) pada triwulan IV Tahun 2025. Angka ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,39 persen.
Keberhasilan Kepri memanfaatkan kedekatan geografis dengan Singapura sebagai tujuan ekspor produk daerah menjadi contoh positif. Ini menunjukkan bagaimana strategi regional dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan.
Mendagri juga mengingatkan pentingnya pemerataan ekonomi antara kawasan maju dan wilayah kepulauan terluar. Dalam konteks ini, inovasi Bank Indonesia melalui sistem pembayaran QRIS sangat diapresiasi sebagai terobosan.
Sistem digital seperti QRIS dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mengoptimalkan pendapatan asli daerah (PAD). Mendagri mengusulkan sistem daring agar pajak konsumen dari hotel dan restoran dapat langsung masuk ke kas daerah tanpa membebani masyarakat.
Terakhir, Mendagri berharap penyelenggaraan Kepulauan Riau Ramadan Fair dapat terus dilaksanakan secara rutin. Kegiatan semacam ini tidak hanya menciptakan interaksi ekonomi lokal, tetapi juga berkontribusi pada kemajuan bangsa.
Sumber: AntaraNews