Luas Perkebunan Lada Babel Menyusut Drastis, Kemenkeu Dorong Revitalisasi
Luas Perkebunan Lada Babel terus menyusut hingga tersisa 36.595 hektare akibat ekspansi sawit dan timah. Kemenkeu dorong langkah revitalisasi untuk komoditas ekspor unggulan ini.
Luas lahan perkebunan lada putih di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) kini hanya tersisa 36.595 hektare. Penurunan signifikan ini menjadi perhatian serius dari berbagai pihak terkait. Data terbaru ini disampaikan oleh Perwakilan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Penurunan luas lahan perkebunan lada ini merupakan dampak langsung dari ekspansi perkebunan kelapa sawit dan aktivitas penambangan timah. Kondisi ini telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Kemenkeu Babel mendorong pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah strategis.
Langkah tersebut bertujuan untuk memperluas kembali area perkebunan lada dan meningkatkan produksi komoditas ekspor unggulan daerah. Upaya revitalisasi ini diharapkan dapat mengembalikan kejayaan lada putih Babel. Hal ini penting demi menjaga keberlanjutan ekonomi lokal.
Tren Penurunan Luas Lahan Perkebunan Lada Babel
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Perwakilan Kemenkeu Kepulauan Babel, luas lahan perkebunan lada petani pada tahun 2024 tercatat seluas 36.595 hektare. Rinciannya meliputi 10.534 hektare tanaman belum menghasilkan, 19.909 hektare tanaman menghasilkan, dan 6.152 hektare tanaman tidak menghasilkan. Angka ini menunjukkan penurunan yang signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.
Tren penyusutan luas perkebunan lada di Bangka Belitung telah terjadi secara konsisten sejak tahun 2019. Pada tahun 2023, luasnya mencapai 38.684 hektare, kemudian 44.548 hektare pada 2022, 49.465 hektare pada 2021, 52.192 hektare pada 2020, dan 52.688 hektare pada 2019. Penurunan ini tersebar di berbagai kabupaten seperti Bangka Selatan, Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka, Belitung, dan Belitung Timur.
Kepala Perwakilan Kemenkeu Kepulauan Babel, Syukriah HG, menegaskan bahwa penurunan luas perkebunan lada ini berdampak langsung pada produksi lada putih. "Luas perkebunan lada ini setiap tahunnya berkurang sehingga berdampak terhadap produksi lada putih berkurang," ujarnya.
Faktor Penyebab Berkurangnya Perkebunan Lada dan Jumlah Pekebun
Penurunan luas perkebunan lada tidak hanya disebabkan oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan timah. Faktor lain yang turut berkontribusi adalah berkurangnya jumlah pekebun yang mengelola komoditas unggulan ekspor daerah ini. Hal ini menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan sektor lada di Babel.
Data menunjukkan bahwa jumlah pekebun lada putih di Kepulauan Babel juga mengalami penurunan drastis. Pada tahun 2019, jumlah pekebun mencapai 62.672 orang, kemudian menurun menjadi 61.891 orang pada 2020, 55.999 orang pada 2021, 51.358 orang pada 2022, 44.257 orang pada 2023, dan pada tahun 2024 hanya tersisa 41.916 orang. Angka ini mencerminkan tren yang mengkhawatirkan.
Syukriah HG menambahkan bahwa kondisi demografi pekebun lada saat ini didominasi oleh petani lanjut usia. "Saat ini pekebun lada ini didominasi petani lanjut usia, karena minat generasi muda untuk berkebun lada ini kurang," jelasnya. Kurangnya minat generasi muda menjadi salah satu tantangan besar dalam upaya revitalisasi perkebunan lada.
Dorongan Kemenkeu untuk Revitalisasi Sektor Lada
Melihat kondisi ini, Kementerian Keuangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara aktif mendorong pemerintah daerah untuk mengambil langkah konkret. Tujuannya adalah untuk memperluas kembali lahan perkebunan lada. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan produksi komoditas ekspor yang menjadi kebanggaan Babel.
Menurut Syukriah HG, "Kita terus mendorong pemerintah daerah untuk melakukan langkah memperluas lahan perkebunan lada untuk meningkatkan produksi komoditas ekspor ini." Dorongan ini menunjukkan komitmen Kemenkeu dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah melalui sektor pertanian.
Revitalisasi sektor lada bukan hanya tentang peningkatan produksi, tetapi juga tentang keberlanjutan mata pencarian petani dan pelestarian warisan agrikultur daerah. Dengan dukungan pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan perkebunan lada Babel dapat kembali berjaya.
Sumber: AntaraNews