Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan peningkatan signifikan dalam produksi lada putih di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Produksi lada putih Babel diprediksi naik 31,29 persen pada tahun 2025. Peningkatan ini diperkirakan akan secara langsung mendorong perekonomian masyarakat petani di wilayah tersebut.
Data BRIN menunjukkan bahwa produksi lada putih untuk tahun 2025 akan mencapai 20.412 ton. Angka ini jauh melampaui 16.717 ton yang tercatat pada tahun sebelumnya, 2024. Peningkatan volume produksi ini menjadi kabar baik bagi sektor pertanian lokal yang sangat bergantung pada komoditas ini.
Peneliti Ahli Utama BRIN, Prof. Dr.Ir Risfaheri, menyampaikan informasi penting ini saat memberikan materi. Ia menyebut perkebunan lada putih menjadi tumpuan utama bagi 30 hingga 40 persen petani di Babel. Hal ini disampaikan dalam Forum Group Discussion (FGD) Mengembalikan Kejayaan Lada Putih Babel secara daring di Pangkalpinang.
Advertisement
Advertisement
BRIN menyoroti peran penting lada putih bagi petani di Bangka Belitung sebagai sumber utama pendapatan. Komoditas ini menjadi tulang punggung ekonomi bagi sebagian besar masyarakat agraris di provinsi tersebut. Sekitar 30 hingga 40 persen petani di Babel menggantungkan hidupnya pada perkebunan lada putih.
Proyeksi peningkatan produksi lada putih Babel pada 2025 mencapai 20.412 ton, menunjukkan lonjakan signifikan. Angka ini merupakan kenaikan yang substansial dari 16.717 ton yang tercatat pada tahun 2024. Peningkatan ini diharapkan dapat membawa dampak positif yang luas bagi kesejahteraan petani.
Data historis menunjukkan fluktuasi produksi lada putih di Babel dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021, produksi mencapai 27.167 ton, kemudian menurun pada 2022 dan 2023. Namun, tren kenaikan kembali terlihat jelas untuk proyeksi tahun 2025, menandakan pemulihan sektor ini.
Advertisement
Advertisement
Sebaran produksi lada putih di Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan konsentrasi di beberapa wilayah. Kabupaten Bangka Selatan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi sebesar 44,58 persen dari total produksi. Diikuti oleh Belitung sebesar 20,89 persen dan Bangka Tengah 13,83 persen, menunjukkan sentra-sentra produksi yang kuat.
Produksi lada secara nasional juga menunjukkan tren peningkatan yang positif dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia diproyeksikan menghasilkan 63.461 ton pada 2025, dengan provinsi penghasil utama meliputi Bangka Belitung, Lampung, dan Sulawesi Selatan. Hal ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain penting di pasar lada global.
Meskipun ada peningkatan produksi lada putih di Kepulauan Babel, BRIN menekankan pentingnya untuk terus menggenjot volume. Permintaan pasar dunia terhadap komoditas ini sangat tinggi dan stabil. "Lada putih Babel atau lebih dikenal Muntok White Pepper sudah sejak zaman kolonial dikenal dunia," kata Risfaheri, menyoroti reputasi historisnya.
Advertisement
Advertisement
Lada putih dari Bangka Belitung, yang dikenal secara internasional sebagai Muntok White Pepper, memiliki reputasi global yang kuat. Kualitasnya telah diakui sejak zaman kolonial, menjadikannya komoditas premium. Cita rasa dan aroma khasnya menjadi daya tarik utama yang membedakannya dari lada lain.
Keunggulan Muntok White Pepper diperkuat dengan status Indikasi Geografis (IG) yang dimilikinya. Status ini menjamin keaslian dan kualitas produk dari daerah asalnya, memberikan nilai tambah signifikan. Ini merupakan pengakuan resmi atas karakteristik unik yang hanya ditemukan pada lada putih dari Bangka Belitung.
Peningkatan produksi ini harus diimbangi dengan strategi pemasaran yang efektif di pasar global. Memanfaatkan status Indikasi Geografis dapat membuka peluang pasar yang lebih luas dan meningkatkan daya saing produk. Hal ini penting untuk mempertahankan dan mengembalikan kejayaan lada putih Babel di kancah internasional.
Advertisement
Sumber: AntaraNews