Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk secara serius menjaga produktivitas sawah dan mempertahankan luas lahan pertanian di Pulau Dewata. Usulan ini muncul sebagai respons atas tren penurunan signifikan luas lahan pertanian yang terjadi secara berkelanjutan. Kondisi ini secara langsung berimbas pada berkurangnya produksi padi di wilayah Bali.
Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menyampaikan urgensi masalah ini di Denpasar pada Senin, 4 November. Menurutnya, jika pemerintah ingin mempertahankan atau bahkan meningkatkan produksi pertanian, maka fokus utama harus pada peningkatan produktivitas dan pelestarian luas lahan yang ada. Penurunan luas lahan ini bukan hanya sekadar angka, melainkan ancaman nyata terhadap ketahanan pangan lokal.
Data terbaru dari BPS Bali menunjukkan adanya penyusutan luas lahan yang mengkhawatirkan. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari semua pihak terkait untuk mencegah dampak yang lebih besar. Langkah proaktif dari pemerintah daerah sangat dibutuhkan agar sektor pertanian Bali tetap lestari dan mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Advertisement
Advertisement
BPS Bali mencatat bahwa luas baku sawah di Bali telah mengalami penyusutan yang cukup drastis dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan keputusan Menteri ATR/BPN, luas baku sawah di Bali pada tahun 2024 tercatat 64.474 hektar. Angka ini menyempit secara signifikan jika dibandingkan dengan luas pada tahun 2019 yang mencapai 70.996 hektar.
Penurunan tersebut berarti sekitar 6.522 hektar lahan sawah telah hilang dalam kurun waktu lima tahun. Penyusutan luas lahan ini memiliki dampak langsung pada sektor pertanian, khususnya produksi padi. Luas panen padi sepanjang tahun 2025, berdasarkan survei sementara BPS Bali pada September, diperkirakan hanya 99,54 ribu hektar, turun dari 103,80 ribu hektar pada tahun sebelumnya.
Agus Gede Hendrayana Hermawan menyoroti bahwa meskipun periode puncak panen cenderung sama dalam tiga tahun terakhir, yaitu Mei dan Oktober, hasil produksi padi justru cenderung menurun. "Dengan luas panen 99,54 ribu ha produksi padi di Bali itu tercatat 614,86 rb ton. Jika dibanding 2024 angka ini lebih rendah atau turun 3,24 persen, sejalan dengan produksi padi karena sangat dipengaruhi oleh luas panen dan produktivitas pertanian," ujarnya.
Advertisement
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan dalam menjaga produktivitas pertanian Bali semakin kompleks. Perluasan pembangunan dan alih fungsi lahan menjadi faktor utama di balik penyusutan lahan sawah yang terus terjadi.
Advertisement
Penurunan luas lahan pertanian di Bali berdampak langsung pada jumlah produksi padi secara keseluruhan. Data BPS Bali menunjukkan bahwa produksi padi di Bali tercatat sebesar 614,86 ribu ton. Angka ini lebih rendah atau turun sebesar 3,24 persen dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya.
Penurunan produksi padi ini sangat dipengaruhi oleh berkurangnya luas panen dan juga produktivitas lahan pertanian yang ada. Ketika luas lahan menyusut, potensi untuk menghasilkan jumlah padi yang sama atau lebih tinggi menjadi terbatas, kecuali ada peningkatan produktivitas yang signifikan.
Lebih lanjut, BPS Bali juga mengamati penurunan pada konversi padi menjadi beras. Akibat turunnya luas panen dan produktivitas, jumlah beras yang dihasilkan hanya mencapai 346,75 ribu ton. Angka ini juga menunjukkan penurunan sebesar 3,24 persen, sejalan dengan penurunan produksi padi.
Advertisement
Implikasi dari penurunan ini adalah potensi ancaman terhadap ketersediaan pangan lokal. Jika tren ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi yang efektif, Bali mungkin akan menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan beras bagi penduduknya. Oleh karena itu, upaya menjaga produktivitas pertanian Bali menjadi sangat krusial.
Advertisement
Menyikapi kondisi luas lahan pertanian yang terus menyempit, BPS Bali menyarankan beberapa solusi strategis untuk mencegah penurunan produksi yang berkelanjutan. Salah satu rekomendasi utama adalah menggenjot produktivitas lahan yang sudah ada. Peningkatan produktivitas ini dapat dicapai melalui penerapan teknologi pertanian modern, penggunaan bibit unggul, serta praktik pertanian yang efisien.
Selain itu, menjaga dan mempertahankan luas lahan pertanian yang tersisa juga menjadi prioritas. Agus Gede menekankan bahwa jika salah satu dari dua faktor ini (produktivitas atau luas lahan) tidak dilakukan, maka produksi pertanian dipastikan akan terus menurun. Keseimbangan antara keduanya sangat penting untuk keberlanjutan sektor pertanian.
Mendorong pertanian organik juga diusulkan sebagai salah satu opsi, terutama jika kaitannya adalah nilai ekonomi. Meskipun luas lahan tetap, pertanian organik dapat memberikan nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan pertanian konvensional. Hal ini dapat menjadi strategi untuk meningkatkan pendapatan petani tanpa harus bergantung pada perluasan lahan.
Advertisement
Namun, untuk Bali, Agus Gede mengakui bahwa penambahan luas lahan pertanian sangat sulit dilakukan, berbeda dengan provinsi lain. Justru, pengurangan lahan terus terjadi, salah satunya akibat pembangunan infrastruktur dan pariwisata yang masif. Kondisi ini menuntut pemerintah daerah untuk mencari solusi inovatif dan berkelanjutan dalam menjaga produktivitas pertanian Bali.
Sumber: AntaraNews