Lapas Banjarmasin Bentuk Kader Ketahanan Pangan, Perkuat Kemandirian Warga Binaan
Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banjarmasin membentuk kader ketahanan pangan dari tiap blok hunian sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian warga binaan.
Lapas Kelas IIA Banjarmasin di Kalimantan Selatan telah membentuk kader ketahanan pangan. Program ini melibatkan perwakilan dari setiap blok hunian warga binaan. Ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian mereka.
Pembentukan kader ini bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan lingkungan yang terintegrasi di dalam lapas. Kepala Lapas Akhmad Herriansyah menyatakan bahwa ini bukan sekadar aktivitas bercocok tanam biasa. Program ini adalah instrumen pembinaan karakter, tanggung jawab, dan kewirausahaan.
Pembinaan ini disiapkan bagi warga binaan sebelum mereka kembali ke masyarakat. Ketahanan pangan dianggap sebagai bekal penting agar warga binaan memiliki pola pikir produktif. Mereka diharapkan siap mandiri setelah keluar dari lapas.
Inovasi Pembinaan Karakter dan Pengelolaan Lingkungan
Program pembentukan kader ketahanan pangan di Lapas Banjarmasin ini merupakan wujud nyata dari pembinaan kemandirian. Hal ini menyentuh aspek kehidupan yang sangat fundamental bagi warga binaan.
Akhmad Herriansyah menjelaskan bahwa inisiatif ketahanan pangan dimulai dari unit terkecil di blok hunian. Setiap blok bahkan telah dilengkapi dengan tempat sampah khusus untuk memilah limbah. Pemilahan ini mencakup limbah organik, anorganik, dan B3.
Sampah organik yang terkumpul kemudian diolah menjadi kompos yang bermanfaat. Sementara itu, sampah anorganik dikelola lebih lanjut untuk diubah menjadi produk kreatif. Produk-produk ini diharapkan memiliki nilai ekonomi.
Praktik Nyata di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE)
Para kader ketahanan pangan juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan observasi lapangan. Observasi ini dilaksanakan di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) milik lapas.
Di SAE, mereka mempelajari berbagai teknik budidaya yang berkelanjutan. Ini termasuk budidaya perikanan serta sistem hidroponik untuk tanaman seperti selada, pakcoy, kangkung, dan bayam.
Selain itu, para kader juga dibekali pengetahuan tentang budidaya maggot. Maggot ini berfungsi sebagai pengolah sampah organik dan juga sebagai pakan alternatif untuk ternak.
Pemanfaatan limbah plastik sebagai media tanam menjadi salah satu fokus utama dalam kegiatan ini. Melalui praktik langsung, para kader tidak hanya memahami konsep secara teori. Mereka juga menyaksikan keberhasilan ekosistem pangan mandiri yang telah berjalan berkelanjutan di area SAE.
Membangun Pola Pikir Produktif dan Berkelanjutan
Salah seorang warga binaan berinisial NM mengungkapkan rasa motivasinya setelah mendapatkan pembekalan. Ia kini memahami bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari hal-hal kecil di sekitar mereka.
NM menambahkan bahwa jika program ini dilakukan secara konsisten, akan menjadi bekal berharga. Bekal ini sangat penting saat mereka bebas dan kembali ke masyarakat nantinya.
Lapas Banjarmasin memiliki harapan besar terhadap program ini. Mereka berharap program ini dapat menciptakan ekosistem produktif yang berkelanjutan di lingkungan lapas.
Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari hasil panen tanaman pangan semata. Lebih dari itu, keberhasilan utama adalah kesadaran dan perubahan pola pikir warga binaan menuju kemandirian.
Sumber: AntaraNews