Trivia Lapas: Tanpa Tanah, Pertanian Hidroponik Lapas Ambon Bekali WBP Keterampilan dan Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Lapas Ambon kini mengandalkan Pertanian Hidroponik Lapas Ambon sebagai sarana pembinaan warga binaan. Bagaimana metode tanpa tanah ini tidak hanya membekali keterampilan tetapi juga mendukung ketahanan pangan nasional?
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambon mengambil langkah inovatif dengan mengintegrasikan pertanian modern hidroponik sebagai inti dari program pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP). Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada pengembangan keterampilan, tetapi juga berkontribusi aktif pada penguatan program ketahanan pangan nasional. Lapas Ambon menunjukkan bagaimana keterbatasan lahan dapat diatasi dengan teknologi pertanian yang cerdas dan berkelanjutan.
Kepala Lapas Ambon, Herliadi, menjelaskan bahwa budidaya ini sepenuhnya dilakukan tanpa menggunakan media tanah. Metode Pertanian Hidroponik Lapas Ambon hanya mengandalkan air dan nutrisi khusus, menjadikannya sangat ideal untuk lingkungan lapas yang memiliki area terbatas. Sistem ini menawarkan efisiensi tinggi serta siklus panen yang sangat singkat, rata-rata dapat dipanen dalam waktu 10 hingga 15 hari setelah semai, menjamin hasil yang stabil dan berkelanjutan.
Tujuan utama dari program ini jauh melampaui sekadar memenuhi kebutuhan pangan internal lapas. Herliadi menegaskan bahwa program ini dirancang untuk membekali warga binaan dengan keterampilan bertani modern. Keterampilan ini diharapkan dapat menjadi bekal berharga dan peluang usaha yang prospektif bagi mereka setelah bebas, mendukung reintegrasi sosial dan ekonomi.
Membekali Keterampilan dan Kemandirian Warga Binaan
Pertanian Hidroponik Lapas Ambon secara signifikan membekali warga binaan dengan keahlian praktis yang relevan di dunia kerja. Program ini mengajarkan mereka seluruh proses budidaya, mulai dari penyemaian hingga panen, menggunakan teknik modern yang efisien. Herliadi menekankan bahwa Lapas bukan hanya tempat untuk menjalani hukuman, melainkan juga wadah pembinaan yang komprehensif, memastikan WBP kembali ke masyarakat dengan bekal yang bermanfaat.
Metode hidroponik yang diterapkan sangat cocok untuk kondisi Lapas Ambon yang memiliki keterbatasan lahan. Sistem ini memungkinkan produksi tanaman dalam jumlah besar di ruang yang relatif kecil, memaksimalkan penggunaan sumber daya yang ada. Efisiensi ini juga terlihat dari penggunaan air yang lebih hemat dibandingkan pertanian konvensional, menjadikannya pilihan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Salah satu bukti keberhasilan program ini adalah hasil panen selada hidroponik yang mencapai 10 kilogram dalam satu kali panen. Hasil panen ini kemudian dijual kepada petugas lapas serta keluarga WBP, menciptakan perputaran ekonomi internal yang positif. Transparansi dalam pengelolaan hasil penjualan juga menunjukkan komitmen Lapas Ambon terhadap akuntabilitas pembinaan kepada masyarakat luas.
Mendukung Ketahanan Pangan Nasional dan Asta Cita
Program Pertanian Hidroponik Lapas Ambon ini merupakan bagian integral dari upaya yang lebih luas untuk mendukung kebijakan ketahanan pangan nasional. Inisiatif ini sejalan dengan arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, yang secara khusus menitikberatkan pada pemberdayaan warga binaan. Pemberdayaan ini bertujuan agar WBP dapat berkontribusi pada sektor pangan, baik selama masa pembinaan maupun setelah kembali ke masyarakat.
Langkah strategis ini juga selaras dengan program Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden yang mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan. Lapas Ambon secara aktif berpartisipasi dalam mewujudkan visi tersebut dengan memanfaatkan potensi sumber daya manusia dan lahan yang ada. Kontribusi ini menunjukkan peran Lapas dalam mendukung agenda pembangunan nasional.
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Maluku, Ricky Dwi Biantoro, menegaskan bahwa pengembangan teknologi Pertanian Hidroponik Lapas Ambon adalah bagian dari implementasi Program Akselerasi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam ketahanan pangan. Program ini secara khusus mendorong setiap Lapas untuk mengoptimalkan potensi lokal yang dimiliki. Ricky berharap, saat bebas nanti, warga binaan tidak hanya memiliki keahlian, tetapi juga peluang usaha yang nyata, mewujudkan pemasyarakatan yang produktif dan berdaya saing.
Sumber: AntaraNews