Gubernur Jambi Mendesak Intervensi Harga Pangan di Tiga Daerah untuk Kendalikan Inflasi
Gubernur Jambi Al Haris meminta Kabupaten Kerinci, Bungo, dan Kota Jambi segera intervensi harga pangan. Langkah ini krusial untuk menekan laju inflasi Jambi, terutama menjelang bulan suci Ramadhan.
Gubernur Jambi Al Haris mendesak tiga wilayah di provinsinya untuk segera melakukan intervensi harga kebutuhan pokok. Langkah ini diambil guna mengantisipasi dan mencegah inflasi yang berpotensi terus berulang di daerah tersebut, demi menjaga daya beli masyarakat. Tiga daerah yang dimaksud adalah Kabupaten Kerinci, Kabupaten Bungo, dan Kota Jambi.
Peringatan ini disampaikan setelah rapat virtual dengan kepala daerah terkait pada Kamis (8/1/2026), menyusul laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi. BPS mengidentifikasi ketiga daerah tersebut sebagai penyumbang utama inflasi di Provinsi Jambi. Oleh karena itu, intervensi harga pangan menjadi prioritas untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Menurut BPS, komoditas seperti daging ayam dan bawang merah menjadi pemicu utama kenaikan harga di pasar-pasar strategis. Kondisi ini diperkirakan akan semakin rawan menjelang bulan suci Ramadhan yang akan tiba Februari mendatang, yang seringkali memicu kenaikan permintaan. Oleh karena itu, koordinasi dan tindakan konkret sangat diperlukan untuk menstabilkan harga.
Peran Tiga Daerah dalam Pemicu Inflasi Jambi
Gubernur Al Haris secara tegas meminta Bupati Kerinci, Bupati Bungo, dan Wali Kota Jambi untuk segera mengambil langkah intervensi harga. Permintaan ini didasarkan pada hasil evaluasi BPS yang menempatkan ketiga daerah tersebut sebagai kontributor signifikan terhadap angka inflasi di Provinsi Jambi. Pentingnya intervensi harga pangan di wilayah ini tidak bisa ditawar lagi, demi kesejahteraan warga.
Hasil pengamatan BPS di pasar-pasar utama menunjukkan bahwa kenaikan harga daging ayam dan bawang merah menjadi faktor dominan penyebab inflasi. Pasar Angso Duo dan Talang Banjar di Kota Jambi, Pasar Bungur di Kabupaten Bungo, serta Pasar Siulak di Kabupaten Kerinci menjadi fokus survei BPS. Komoditas ini perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah agar tidak terus membebani masyarakat.
Untuk itu, dinas terkait di masing-masing daerah diinstruksikan untuk berkoordinasi dan melaksanakan langkah konkret dalam bentuk intervensi pasar. Tujuannya adalah menstabilkan harga komoditas pangan esensial di pasaran sebelum terjadi lonjakan yang lebih parah. Intervensi harga pangan diharapkan dapat meredam gejolak harga yang merugikan daya beli masyarakat.
Data Inflasi dan Antisipasi Ramadhan
BPS Provinsi Jambi merilis data inflasi month to month (mtm) pada Desember 2025 mencapai 0,62 persen. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga sebagian besar barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat dibandingkan bulan sebelumnya, November 2025. Data ini menjadi dasar urgensi intervensi harga pangan yang harus segera dilakukan.
Secara year to date, inflasi Provinsi Jambi tercatat sebesar 3,71 persen pada Desember 2025. Kepala BPS Provinsi Jambi, Agus Sudibyo, menjelaskan bahwa kenaikan inflasi 0,62 persen ini didominasi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas-komoditas ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi regional.
Selain daging ayam ras dan bawang merah, komoditas lain yang turut menyumbang inflasi signifikan adalah cabai rawit dan emas perhiasan. Gubernur Al Haris menekankan bahwa kebijakan intervensi harga ini sangat krusial mengingat bulan Februari akan memasuki Ramadhan. Periode ini secara historis seringkali disertai dengan kenaikan permintaan dan harga kebutuhan pokok, sehingga perlu langkah antisipatif.
Sumber: AntaraNews