Fakta Unik: Lebak Surplus Beras hingga 2027! Ini Alasan Prioritas Pertanian Lebak Jadi Kunci Kesejahteraan Warga
Pemerintah Kabupaten Lebak menjadikan Prioritas Pertanian Lebak sebagai tulang punggung pembangunan. Bagaimana strategi ini mampu menciptakan surplus pangan dan meningkatkan kesejahteraan warganya?
Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, secara konsisten menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas utama pembangunan daerah. Kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat ketersediaan pangan lokal serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Langkah strategis ini diharapkan mampu mewujudkan kesejahteraan warga secara berkelanjutan.
Sekretaris Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Lebak, Widy Ferdian, mengungkapkan bahwa sektor pertanian menyumbang Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar hingga 27,69 persen setiap tahunnya. "Kami optimistis sektor pertanian itu dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar Widy. Bupati Lebak, Hasbi Asyidiki, juga menegaskan fokus pada pertanian, termasuk perkebunan, perikanan, dan peternakan.
Penguatan sektor ini diyakini mampu menekan angka kemiskinan dan mendukung upaya penghapusan kemiskinan ekstrem di wilayah Lebak. Berbagai program intervensi telah disiapkan untuk mencapai target tersebut. Hal ini menunjukkan komitmen serius pemerintah daerah dalam memajukan sektor vital ini.
Strategi Komprehensif Pembangunan Pertanian
Program pembangunan Prioritas Pertanian Lebak untuk tahun 2026 sangat komprehensif. Ini mencakup rehabilitasi jaringan irigasi yang vital untuk pengairan lahan pertanian. Selain itu, pembangunan jalan usaha tani juga menjadi fokus untuk memudahkan akses petani.
Pemerintah daerah juga menyalurkan berbagai bantuan sarana produksi (saprodi) dan sarana prasarana (sapras) pertanian. Distribusi pestisida yang tepat sasaran turut mendukung produktivitas petani. Pembinaan kelompok tani dan peningkatan bimbingan teknis (bimtek) budidaya pangan menjadi bagian integral dari strategi ini.
Di bidang peternakan, kelompok peternak rakyat akan menerima bantuan benih domba yang diharapkan mampu menjadi sumber ekonomi baru. Sektor perikanan juga tidak luput dari perhatian pemerintah. Kelompok budidaya air tawar mendapatkan bantuan benih ikan lele, mas, dan nila.
Nelayan tangkap di Lebak juga didukung dengan bantuan alat tangkap dan perahu. Intervensi ini menunjukkan pendekatan holistik pemerintah dalam mengembangkan seluruh subsektor pertanian. Dukungan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan pendapatan masyarakat.
Dampak Positif dan Surplus Pangan di Lebak
Konsistensi dukungan dan intervensi pemerintah terhadap Prioritas Pertanian Lebak telah membuahkan hasil nyata. Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, menegaskan bahwa produksi pangan di Lebak selalu surplus. Hal ini merupakan indikator keberhasilan program-program yang telah dijalankan.
Sepanjang Januari hingga September 2025, produksi gabah basah Lebak mencapai 701.899 ton. Angka ini terdiri dari 682.898 ton padi sawah dan 19.001 ton padi gogo. Jika dikonversi, total produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 582.857 ton atau setara dengan 368.540 ton beras.
Dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp12.500 per kilogram, nilai ekonomi beras tersebut menembus angka miliaran rupiah. Kebutuhan beras masyarakat Lebak yang berjumlah sekitar 1,4 juta jiwa hanya sekitar 154.253 ton per tahun. Penyerapan beras hingga September 2025 mencapai 102.836 ton, menyisakan surplus signifikan.
"Sisa sebanyak itu membuat warga Lebak mengalami surplus beras selama 20 bulan ke depan hingga 2027," kata Deni. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Tambakbaya, Ruhiana, mengapresiasi bantuan pemerintah. "Kami memiliki 70 anggota dengan lahan garapan seluas 150 hektare. Dengan panen setiap empat bulan sekali, petani mampu memperoleh keuntungan dan hidup lebih sejahtera," ujarnya.
Sumber: AntaraNews