Pisang Lebak Jadi Andalan Ekonomi Petani, Pasokan Ratusan Ton Per Bulan Tingkatkan Kesejahteraan
Komoditas pisang Lebak menjadi tulang punggung ekonomi ribuan petani di 28 kecamatan. Produksi ratusan ton per bulan menjadikan pisang Lebak primadona pasar regional, mendorong kesejahteraan dan inovasi UMKM.
Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak, Banten, menyatakan komoditas pisang merupakan andalan ekonomi utama bagi keluarga petani di wilayah tersebut. Didukung lahan yang luas, pengembangan pisang telah merata di 28 kecamatan di Lebak.
Kepala Distan Lebak, Rahmat Yuniar, mengungkapkan bahwa permintaan pasar yang tinggi terhadap pisang terus mendorong upaya pengembangan. Hal ini secara signifikan berkontribusi pada peningkatan taraf ekonomi para petani di daerah.
Pemerintah daerah hingga kini menyalurkan bantuan benih pisang agar menghasilkan mutu dan kualitas. Tujuannya agar produk pisang Lebak mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Pengembangan dan Dominasi Produksi Pisang Lebak
Kabupaten Lebak telah lama dikenal sebagai sentra produksi pisang terbesar di Provinsi Banten. Fakta ini dibuktikan dengan puluhan kendaraan truk diesel maupun mobil pick up yang setiap sore mengangkut pisang ke luar daerah.
Ratusan ton pisang dari Lebak secara rutin dipasok ke berbagai kota besar seperti Tangerang, Bogor, Depok, Bekasi, serta DKI Jakarta. Distribusi masif ini menunjukkan vitalnya peran pisang dalam rantai pasok regional.
Menurut Rahmat Yuniar, perputaran uang dari penjualan pisang di 28 kecamatan Lebak mencapai miliaran rupiah setiap bulan. Volume produksi yang mencapai ratusan ton per bulan menjadi indikator kuat potensi ekonomi komoditas ini.
Harga dan Kesejahteraan Petani Pisang Lebak
Harga pisang di tingkat petani Lebak bervariasi, tergantung pada jenisnya, dengan pisang dari petani Badui dikenal memiliki kualitas terbaik. Misalnya, pisang nangka dijual Rp30 ribu/tandan, sementara pisang ambon mencapai Rp100 ribu/tandan.
Jenis lain seperti pisang mulih dihargai Rp60 ribu/tandan, pisang ketan Rp70 ribu/tandan, dan pisang galek Rp90 ribu/tandan. Pisang raja buluh dan raja sereh masing-masing Rp90 ribu/tandan dan Rp70 ribu/tandan, sedangkan pisang kepok Rp80 ribu/tandan.
Komoditas pisang memberikan dampak positif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan di Lebak. Kehidupan petani pisang cukup sejahtera dan mampu membangun rumah hingga melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci.
Sebab, pendapatan petani pisang bisa menghasilkan sekitar Rp10 juta per bulan dari tanam seluas satu hektare. Rahmat Yuniar memperkirakan pendapatan rata-rata petani bisa mencapai Rp2,5 juta per pekan jika menanam 2.500 pohon di lahan satu hektare.
Inovasi UMKM dan Diversifikasi Produk Pisang
Pelaksana tugas (Plt) Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Imam Suangsa, menyoroti peran penting pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam mengolah pisang. Banyak UMKM memproduksi aneka makanan olahan dari pisang, seperti sale pisang dan keripik pisang.
Produk olahan pisang ini hadir dalam berbagai varian rasa, mulai dari orisinal, pedas, asin, hingga cokelat. Selain itu, pisang juga sering dijadikan bahan baku campuran untuk bolu, roti, dan donat, menambah nilai ekonomisnya.
Imam Suangsa mengapresiasi UMKM yang berhasil menembus pasar ritel modern dengan produk camilan pisang mereka. Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada penanggulangan kemiskinan dan pengangguran.
Maman (55), seorang pelaku UMKM dari Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, mengaku terbantu dengan produksi sale pisang. Ia mampu memasok antara dua sampai tiga ton sale pisang setiap dua pekan ke penampung makanan oleh-oleh di Cianjur dan Bandung, dengan omzet Rp30-35 juta.
Sumber: AntaraNews