Harga Jagung Pipilan Lebak Melonjak, Petani Raih Untung Jutaan Rupiah
Kenaikan harga jagung pipilan Lebak hingga Rp5.500 per kilogram dalam dua pekan terakhir membawa angin segar bagi petani, meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan.
Petani jagung di Kabupaten Lebak, Banten, kini dapat bernapas lega. Sejak dua pekan terakhir, harga jagung pipilan di wilayah tersebut mengalami kenaikan yang signifikan. Kondisi ini dipastikan akan mendongrak pendapatan ekonomi para petani.
Kenaikan harga ini terjadi setelah Perum Bulog menampung jagung pipilan dengan harga yang lebih tinggi. Sebelumnya, harga jagung pipilan berada di angka Rp4.000 per kilogram, kini melonjak menjadi Rp5.500 per kilogram.
Situasi ini disambut gembira oleh para petani, yang melihat potensi peningkatan kesejahteraan. Dengan harga baru ini, hasil panen jagung mereka dapat memberikan keuntungan bersih yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Kenaikan Harga Jagung Pipilan Dorong Kesejahteraan Petani
Kenaikan harga jagung pipilan menjadi Rp5.500 per kilogram oleh Perum Bulog telah memberikan dampak positif yang nyata bagi petani di Lebak. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sukabungah Kecamatan Cibadak, Ruhiana, mengungkapkan kegembiraannya atas peningkatan harga ini.
Ruhiana mencontohkan, dari panen jagung seluas empat hektare dengan produktivitas lima ton jagung pipilan, ia kini bisa meraup pendapatan Rp27.500.000. Setelah dipotong biaya produksi sebesar Rp10.000.000, keuntungan bersih yang didapatkan mencapai Rp17.500.000.
Senada dengan Ruhiana, Soleh (50), seorang petani dari Maja Kabupaten Lebak, juga merasakan manfaat dari kenaikan harga ini. Dari dua hektare lahan jagung yang menghasilkan empat ton pipilan, Soleh berhasil mendapatkan Rp22.000.000. Keuntungan bersihnya setelah biaya produksi mencapai Rp12.000.000.
Jagung, Komoditas Andalan Ekonomi Petani Lebak
Jagung telah lama menjadi komoditas andalan bagi sebagian besar petani di Kabupaten Lebak. Tanaman ini dipilih karena masa tanam hingga panen yang relatif singkat, yakni sekitar 110-120 hari setelah tanam.
Para petani di Lebak juga dikenal adaptif dalam memanfaatkan lahan. Banyak dari mereka mengembangkan pertanian jagung di lahan milik pengembang developer perumahan atau lahan BUMN yang belum termanfaatkan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengapresiasi upaya petani dalam mengembangkan jagung. Ia menyoroti bahwa produksi jagung di Lebak merupakan yang terbesar di Provinsi Banten, dengan pengembangan jagung hibrida dan varietas unggul lainnya yang sesuai permintaan pasar.
Sentra Produksi Jagung dan Varietas Unggul di Lebak
Kabupaten Lebak dikenal sebagai sentra penghasil jagung terbesar di Provinsi Banten. Hal ini didukung oleh luasnya lahan pertanian jagung yang tersebar di berbagai kecamatan.
Sentra-sentra penghasil jagung di Lebak meliputi Kecamatan Gunungkencana, Maja, Curugbitung, Rangkasbitung, Cibadak, Cileles, Cimarga, Leuwidamar, serta wilayah Lebak selatan.
Petani di daerah ini secara aktif mengembangkan jagung hibrida dan varietas unggul lainnya. Pemilihan varietas ini didasarkan pada permintaan pasar yang tinggi, sehingga memastikan hasil panen memiliki nilai jual yang baik.
Sumber: AntaraNews