Donald Trump Marah Banyak Hari Libur Buat Ekonomi AS Merosot, Hasil Penelitian Ungkap Fakta Lain
Sebagian besar penelitian mengenai dampak ekonomi dari hari libur nasional yang hanya berfokus pada produktivitas kerja.
Presiden Donald Trump belum lama ini menyebut bahwa banyaknya hari libur nasional di Amerika Serikat menimbulkan kerugian besar secara ekonomi. Menurut dia, negara AS merugi miliaran dolar akibat banyaknya tanggal merah tersebut.
"Terlalu banyak hari libur di Amerika. Ini membuat negara kita merugi miliaran karena banyak bisnis yang harus tutup," tulis Trump di platform Truth Social bertepatan dengan perayaan Juneteenth, hari libur nasional baru yang memperingati berakhirnya perbudakan di Amerika Serikat/
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengakui dalam konferensi pers hari itu bahwa Juneteenth adalah hari libur nasional, dan dia sangat berterima kasih kepada para jurnalis yang tetap hadir. Namun, dia enggan menjawab apakah Trump melakukan sesuatu untuk memperingatinya.
"Para pekerja juga tidak menginginkannya!" lanjut Trump dalam unggahannya dilansir dari CNN International.
“Lama-lama, tiap hari kerja akan punya hari liburnya sendiri. Ini harus diubah jika kita ingin membuat Amerika kembali hebat."
Namun, benarkah banyak libur dan tanggal merah membuat ekonomi merosot?
Sebagian besar penelitian mengenai dampak ekonomi dari hari libur nasional yang hanya berfokus pada produktivitas kerja, yakni seberapa banyak yang bisa diselesaikan pekerja dalam waktu tertentu.
Hari libur secara langsung memang membuat produktivitas harian turun menjadi nol. Tapi dampaknya tak hanya terjadi pada hari libur itu sendiri. Hari-hari sebelum dan sesudahnya juga kerap terdampak karena banyak pekerja mengambil cuti tambahan, yang akhirnya membebani rekan kerja lainnya dan menurunkan produktivitas secara keseluruhan.
Sebuah studi pada tahun 2022 yang dilakukan dua ekonom menunjukkan bahwa ketika hari libur nasional jatuh pada akhir pekan dan tidak digeser ke hari kerja, output nasional (produk domestik bruto) justru meningkat 0,08 persen hingga 0,2 persen dibandingkan jika hari libur itu dijadwalkan ulang ke hari kerja biasa. Industri manufaktur disebut sebagai salah satu sektor yang paling terdampak secara negatif akibat hari libur.
Dampak Jangka Panjang
Namun, itu hanya dampak jangka pendek. Dalam jangka panjang, hari libur berbayar termasuk libur nasional justru dapat meningkatkan semangat kerja dan produktivitas karyawan secara keseluruhan. Ini karena bekerja terus-menerus tidak selalu berarti lebih produktif. Sebaliknya, risiko kelelahan meningkat, yang justru menurunkan performa.
Sebagai contoh, riset terbaru dari Microsoft mengungkap bahwa para pekerja kini kesulitan menghadapi hari kerja yang terasa tak ada habisnya akibat semakin banyaknya rapat di luar jam kerja.
Salah satu hasilnya: sepertiga pekerja mengaku merasa mustahil untuk mengikuti ritme kerja selama lima tahun terakhir, berdasarkan survei global terhadap 31.000 karyawan yang dilakukan atas permintaan Microsoft.
Di sisi lain, survei internal Ernst & Young menunjukkan bahwa untuk setiap tambahan 10 jam libur yang diambil karyawan, penilaian kinerjanya naik 8 persen. Selain itu, mereka yang rutin mengambil waktu libur juga cenderung lebih betah bekerja dan tidak mudah resign.
Konsumen Justru Belanja Lebih Banyak saat Libur
Bertolak belakang dengan pernyataan Trump, tidak semua bisnis benar-benar tutup saat libur nasional. Banyak pekerja seperti petugas darurat, pegawai toko ritel, hingga staf transportasi tetap bekerja.
Dari sisi konsumsi, hari libur malah menjadi momen peningkatan belanja masyarakat. Banyak bisnis justru merancang promo dan diskon khusus di hari-hari tersebut.
Sektor yang paling diuntungkan meliputi pariwisata, perhotelan, dan ritel.
Bahkan, usaha kecil pun turut merasakan manfaat. Sebuah studi tahun 2018 di Inggris menemukan bahwa hari libur bank (bank holiday) memberi tambahan keuntungan rata-rata £253 (sekitar USD 340) pada toko-toko kecil.