Diskon dan Insentif Bisa Dongkrak Daya Beli Rojali, Rombongan Jarang Beli
Gelaran potongan harga besar-besaran tersebut dapat menjadi salah satu momentum untuk mendorong konsumsi domestik.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani menyebut bahwa para pelaku ritel tengah bersiap menyambut Hari Belanja Nasional yang diperingati menjelang 17 Agustus dengan berbagai program diskon besar.
Menurutnya, gelaran potongan harga besar-besaran tersebut dapat menjadi salah satu momentum untuk mendorong konsumsi domestik, termasuk mendorong agar 'Rojali' atau rombongan jarang beli dan 'Rohana' atau rombongan hanya nanya untuk berbelanja.
Apalagi kata Shinta, jika program diskon tersebut disinergikan dengan insentif atau stimulus dari pemerintah, dampaknya bisa lebih terasa di sektor riil.
"Kalau kita lihat program dengan para retailer juga akan berlangsung dengan diskon besar menjelang 17 Agustus 'Hari belanja nasional' dan saya rasa di regulasi kebijakan juga sudah ada beberapa insentif-insentif diskon yang disiapkan Pemerintah," kata Shinta saat ditemui di kantor Apindo, Jakarta, Selasa (29/7).
Shinta menyampaikan, dilihat dari sudut pandang pelaku ritel, tren tersebut menunjukkan adanya pergeseran perilaku konsumen akibat melemahnya permintaan (demand).
"Kalau kita kaitkan dengan demand, rojali dan rohana itu konsepnya lebih ke daya beli, di ritel sendiri mereka merasakan pelaku-pelaku ritel kami bahwa adanya penurunan demand itu terasa sekali, makannya ada orang yang lebih banyak jalan-jalan," ujarnya.
Meski begitu, ia melihat sisi positif dari fenomena ini. Menurutnya, lebih baik masyarakat masih datang ke pusat perbelanjaan, dibandingkan pusat perbelanjaan yang benar-benar sepi pengunjung.
APPBI: Rojali Sudah Lama Ada
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyebut fenomena Rojali bukanlah hal baru.
"Sebetulnya kan bukan hal yang baru rojali Itu kan bukan kali ini aja terjadi kan. Sebelum-sebelumnya sudah terjadi cuman saja memang intensitas jumlahnya yang berbeda dari waktu ke waktu," ujarnya.
Menurut Alphonzus, perubahan kondisi ekonomi global dan domestik membuat konsumen, khususnya kelas menengah atas, menjadi lebih berhati-hati dalam berbelanja. Mereka cenderung menahan konsumsi, terutama jika ada sinyal ketidakpastian ekonomi.
Mengenal Fenomena Rojali dan Rohana
Fenomena Rojali dan Rohana adalah istilah akronim yang kini populer untuk menggambarkan perilaku pengunjung di pusat perbelanjaan. Meskipun kedua istilah ini belum tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), popularitasnya telah menyebar luas dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform.
Rojali sendiri merupakan akronim dari "rombongan jarang beli". Sementara itu, Rohana adalah akronim dari "rombongan hanya nanya". Kedua akronim atau istilah ini secara spesifik merujuk pada sekelompok orang yang mengunjungi mal tanpa melakukan transaksi pembelian yang signifikan.
Ciri-ciri umum pengunjung yang tergolong dalam fenomena Rojali meliputi:
• Datang bersama teman atau keluarga dalam jumlah banyak.
• Menghabiskan waktu lama di area publik seperti food court, lorong mal, atau spot foto.
• Tidak melakukan pembelian, hanya bertanya-tanya atau melihat-lihat barang.
• Menggunakan fasilitas gratis seperti Wi-Fi, pendingin ruangan, atau tester produk.
• Sering merekam konten untuk media sosial tanpa berinteraksi dengan tenant.