Menguak Fenomena Rojali, Bukan Hanya Soal Daya Beli, Ini Fakta Sosial Budayanya!

Fenomena Rojali alias 'Rombongan Jarang Beli' marak di Indonesia. Selain daya beli, apa saja faktor sosial dan budaya yang memengaruhinya.

Endang Saputra
Oleh Endang Saputra - Reporter
Menguak Fenomena Rojali, Bukan Hanya Soal Daya Beli, Ini Fakta Sosial Budayanya!
Menguak Fenomena Rojali, Bukan Hanya Soal Daya Beli, Ini Fakta Sosial Budayanya! (Merdeka.com)

Fenomena "Rojali", singkatan dari "Rombongan Jarang Beli", kini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Indonesia. Istilah ini merujuk pada kelompok pengunjung yang mendatangi pusat perbelanjaan, kafe, atau restoran. Mereka melakukan transaksi pembelian yang sangat minim atau bahkan tidak sama sekali, seringkali hanya memanfaatkan fasilitas yang tersedia.

Bagi pelaku usaha, keberadaan kelompok ini cukup meresahkan karena dapat menurunkan potensi pendapatan secara signifikan. Tempat duduk dan fasilitas sering dimanfaatkan tanpa kontribusi finansial yang memadai. Meskipun daya beli masyarakat sering disebut sebagai penyebab, fenomena ini sejatinya lebih kompleks.

Perilaku ini mencerminkan perubahan signifikan dalam pola konsumsi dan interaksi sosial masyarakat urban. Memahami akar penyebabnya menjadi krusial bagi ekosistem bisnis dan sosial di Indonesia. Artikel ini akan mengupas tuntas faktor-faktor sosial dan budaya di balik maraknya fenomena rojali.

Fenomena rojali tidak hanya disebabkan oleh penurunan daya beli, tetapi juga oleh pergeseran perilaku konsumen dan perubahan fungsi ruang publik. Masyarakat kini cenderung mencari pengalaman sosial dan hiburan murah di mal atau kafe, bukan semata-mata untuk berbelanja. Hal ini mengubah fungsi mal dari sekadar tempat belanja menjadi pusat rekreasi, hiburan, dan interaksi sosial.

Salah satu faktor pendorong pergeseran ini adalah budaya kerja Work From Anywhere (WFA). Banyak individu memanfaatkan kafe atau restoran di mal sebagai tempat bekerja, yang seringkali hanya disertai dengan pembelian minimal. Selain itu, kemudahan berbelanja melalui platform e-commerce juga berkontribusi pada fenomena ini.

Konsumen seringkali melakukan window shopping di toko fisik untuk melihat barang secara langsung. Kemudian, mereka memilih untuk membeli produk serupa secara daring karena harga yang lebih kompetitif. Pergeseran ini menunjukkan bahwa masyarakat menjadi lebih selektif dalam mengelola pengeluaran mereka.

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, menyatakan bahwa fenomena rojali dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah perilaku konsumen baru akibat WFA, yang tidak selalu terkait dengan lemahnya daya beli.

Media sosial memainkan peran signifikan dalam membentuk dan memperkuat fenomena rojali. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X tidak hanya mempopulerkan istilah "Rojali" itu sendiri. Namun, juga memengaruhi perilaku konsumsi melalui berbagai cara, salah satunya adalah munculnya Fear of Missing Out (FOMO).

Banyak orang mengunjungi tempat-tempat yang memiliki dekorasi menarik atau estetika "Instagrammable". Mereka hanya datang semata-mata untuk mengambil foto dan membagikannya di media sosial. Hal ini memenuhi kebutuhan eksistensial dan keinginan untuk tampil "kekinian" di hadapan teman-teman atau pengikut daring.

Tekanan sosial untuk membandingkan diri dengan pencapaian atau gaya hidup orang lain yang terlihat "lebih sukses" secara daring juga mendorong perilaku konsumtif. Perilaku ini tidak didasari kebutuhan riil. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial memiliki korelasi positif yang signifikan dengan perilaku konsumtif.

Gaya hidup yang cenderung konsumtif juga berpengaruh positif terhadap perilaku konsumtif. Ini berarti, meskipun seseorang mungkin tidak memiliki daya beli yang tinggi, dorongan untuk mempertahankan citra atau status di media sosial dapat mendorong mereka untuk mengunjungi tempat-tempat populer, meskipun hanya untuk sekadar "nongkrong" tanpa membeli.

Meskipun tingkat literasi keuangan di Indonesia menunjukkan peningkatan, masih banyak masyarakat yang belum memiliki pengetahuan yang memadai. Mereka belum memiliki keterampilan yang efektif dalam mengelola keuangan mereka. Berdasarkan survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2022, indeks literasi keuangan penduduk Indonesia mencapai 49,68 persen, meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.

Namun, angka ini masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Kurangnya literasi keuangan dapat menyebabkan individu kesulitan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Mereka cenderung berperilaku konsumtif atas nama status dan gaya hidup.

Hal ini terlihat dari kecenderungan untuk mengikuti tren gaya hidup "kekinian" meskipun dengan anggaran terbatas. Seringkali, mereka mengesampingkan kebutuhan dasar. Akibatnya, banyak yang terjebak dalam pola konsumsi berlebihan yang tidak sejalan dengan kemampuan ekonomi mereka. Bahkan, mereka sampai menggunakan layanan paylater atau melakukan belanja daring impulsif.

Peningkatan literasi keuangan sangat penting untuk mendorong pembelian yang bertanggung jawab. Hal ini juga dapat mengurangi dampak negatif dari tekanan sosial terhadap perilaku konsumsi. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang manajemen keuangan, masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan terhindar dari masalah keuangan akibat gaya hidup konsumtif.

Urbanisasi, sebagai proses perpindahan penduduk dari daerah pedesaan ke perkotaan, juga turut memengaruhi munculnya fenomena rojali. Lingkungan perkotaan menawarkan akses yang lebih besar terhadap berbagai produk dan layanan. Hal ini pada gilirannya menciptakan tekanan konsumtif dan beragam pilihan konsumsi.

Masyarakat perkotaan cenderung memiliki gaya hidup yang lebih cepat, modern, dan serba praktis. Gaya hidup ini seringkali berfokus pada konsumsi. Perubahan ini tidak hanya mencakup peningkatan konsumerisme, tetapi juga pergeseran dalam preferensi konsumen.

Masyarakat perkotaan lebih mengutamakan produk dan layanan yang mencerminkan status sosial serta gaya hidup modern. Mal dan kafe di perkotaan menjadi ruang publik yang penting untuk interaksi sosial. Mereka menggantikan fungsi-fungsi sosial tradisional yang mungkin ada di pedesaan.

Meskipun urbanisasi membawa peluang ekonomi, pertumbuhan konsumsi yang cepat di lingkungan perkotaan juga dapat meningkatkan kesenjangan sosial dan ekonomi. Fenomena rojali dapat dilihat sebagai salah satu manifestasi dari perubahan gaya hidup yang kompleks ini. Masyarakat urban mencari cara untuk tetap bersosialisasi dan menikmati fasilitas kota meskipun dengan keterbatasan finansial.

Rekomendasi