Fenomena rombongan jarang beli (rojali) dan rombongan hanya nanya (rohana) belum ditemukan di sejumlah mal atau pusat perbelanjaan di Pulau Bali.
Zenzen Guisi Halmis selaku Ketua DPD Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Provinsi Bali, yang menaungi 16 mal di Bali mengatakan, masyarakat yang berkunjung ke mal di Bali masih berbelanja. Tidak ada fenomena rojali dan rohana. Selain warga lokal, juga ada wisatawan domestik dan mancanegara yang datang ke mal dan rata-rata sudah berbelanja.
"Kalau rohana dan rojali ini, di Bali sendiri sebenarnya seperti wisatawan, tidak ada seperti itu. Karena rata-rata yang di mal itu pasti dia sudah belanja," kata Zenzen, usai konferensi pers program ISF 2025 dan memperkenalkan susunan kepengurusan baru DPD APPBI Bali Periode 2025–2028, di Sidewalk Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (14/8) sore.
"Kalau pun melihat satu kali, dua kali (rojali dan rohana) itu biasa kok di dunia mal. Misalkan, kayak mbak-mbaknya melihat baju pasti lihat dulu sekali, besok-nya baru belanja. Fenomena ini, menurut saya biasa, dan memang untuk di mal sendiri kita lebih ingin meningkatkan penjualan tentunya," imbuhnya.
Sementara, menurutnya untuk di Bali sendiri baik warga lokal maupun wisatawan yang datang ke mal memang suka berbelanja.
"Jadi memang orang Bali ini paling senang berbelanja. Dan, kebetulan kita ada turis lokal, domestik dan mancanegara. Jadi saya harapkan ini benar-benar bisa berkesinambungan untuk shopping center," jelasnya.
Advertisement
Selain itu, jika dilihat dari spending power-nya atau daya beli masyarakat di Bali Great Sale atau data belanja tahunan di Bali dan di Indonesia Shopping Center, daya beli masyarakat rata-rata meningkat hingga 7 sampai 15 persen di tahun 2025 ini.
"Kalau dilihat dari kemarin spending power yang ada di Bali Great Sale atau pun di Indonesia Shopping Center sebenarnya meningkat. Makannya saya tadi bilang mulai dari 7 sampai 15 persen itu average," jelasnya.
"Karena memang spending power sudah mulai bagus. Dan karena hotel-hotel di Bali juga bagus (okupansinya), retail-retail juga mulai bagus, sehingga ini impact ke mal-nya sendiri. Karena mal ini, menyewakan jadi kita juga bekerjanya dengan Aprindo dan Apindo untuk tetap meningkatkan ekonomi yang ada di Bali," jelasnya.
Dia juga menyatakan, untuk spending power di Bali sendiri terus meningkat dan apalagi di Bali terus ada pembangunan mal baru, dan itu berarti nilai market atau pasarnya mulai tinggi.
"Untuk mal ini baru ada 16 member untuk kita. Kita kan datangkan lagi beberapa yang saat ini dibangun. Dan ini perkembangan yang bagus untuk Bali," jelasnya.
Advertisement
Dia juga menyampaikan, untuk rata-rata kunjungan ke mal di Bali itu berbeda-beda dan juga tergantung harinya. Per hari itu bisa mencapai 3.000 pengunjung hingga 35.000 pengunjung.
Sementara, menurutnya untuk tantangan mal di Bali sendiri terkait situasi pemilu, politik, ekonomi, dan juga persaingan mal secara internasional.
"Dan terus saat ini kita bersaingnya bukan hanya di Bali, karena Bali ini internasional. Jadi kita akan bersiap-siap bersaing dengan internasional," ujarnya.
"Contohnya, kayak Singapura, Hong Kong ataupun Asia yang tentunya mal-mal ini lagi bergerak, terutama yang China. Kita harus siap karena marketnya kita, bukan hanya lokal tapi marketnya kita ada mancanegara internasional maupun domestik. Jadi pilihannya ini, kita akan bikin wisata belanja yang ada di Bali. Jadi orang bisa belanja di sini dan impact-nya ke kita semua," ujarnya.