Meski Ekonomi Tumbuh Solid 5,61 Persen, Ini Catatan Penting Pengusaha buat Pemerintah
Capaian tersebut merupakan tertinggi untuk periode kuartal pertama sejak 2013. Bahkan, termasuk dalam pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak Kuartal III-2022.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen. Pencapaian ini diapresiasi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).
Menurut Shinta Kamdani, Ketua Umum APINDO, capaian tersebut merupakan tertinggi untuk periode kuartal pertama sejak 2013. Bahkan, termasuk dalam pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak Kuartal III-2022.
"Pertama-tama, dunia usaha mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen, menjadi yang tertinggi untuk periode kuartal pertama sejak 2013, dan merupakan pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak Kuartal III-2022 atau tertinggi dalam 14 kuartal terakhir," kata Shinta dikutip Liputan6.com, Selasa (5/5/2026).
"Ini menunjukkan bahwa secara headline growth, ekonomi Indonesia masih mencerminkan resilience yang cukup kuat berbasis permintaan domestik," tambah dia.
Namun, di balik capaian itu, pelaku usaha melihat adanya ketimpangan. Ketimpangan itu terkait dengan distribusi manfaat pertumbuhan yang mulai terasa di level riil.
Ia menilai kondisi ini mencerminkan fenomena asymmetric impact of growth, di mana pertumbuhan ekonomi tetap terjadi secara agregat, tetapi tidak sepenuhnya dirasakan oleh pelaku usaha di lapangan.
"Dalam konteks ini, dunia usaha menghadapi situasi yang disebut sebagai “asymmetric impact of growth”, di mana pertumbuhan tetap terjadi, tetapi manfaatnya belum terdistribusi secara merata, sementara tekanan biaya meningkat," jelasnya.
Fase Margin Compression
Shinta juga menyebut yang menjadi perhatian dunia usaha adalah transmission mechanism dari pertumbuhan tersebut ke aktivitas bisnis riil.
Secara kuartalan (q-to-q), ekonomi justru mengalami kontraksi sebesar -0,77 persen, dan bahkan pada saat yang sama sektor manufaktur juga mengalami kontraksi kuartalan sebesar -1,01 persen.
"Jadi, meskipun secara makro kita melihat angka pertumbuhan yang solid, di tingkat mikro banyak pelaku usaha masih berada dalam fase margin compression," pungkasnya.
Margin compression merupakan fenomena penurunan margin keuntungan perusahaan karena biaya operasional atau bahan baku meningkat lebih cepat daripada harga jual produk. Akibatnya, laba bersih menyusut meski volume penjualan tetap atau naik.