Fenomena Rojali-Rohana Perlahan Menghilang, Konsumen Bakal Mulai Belanja
Ajib Hamdani, Analis Kebijakan Ekonomi Apindo, berpendapat bahwa pasar Indonesia memiliki keunikan tersendiri terkait fenomena Rojali-Rohana.
Analis Kebijakan Ekonomi Apindo, Ajib Hamdani, mengungkapkan bahwa fenomena "Rojali" (rombongan jarang beli) dan "Rohana" (rombongan hanya nanya) menunjukkan pola konsumsi masyarakat yang khas di Indonesia. Ia menekankan bahwa kondisi ini tidak dapat dipandang secara sepihak.
"Terkait fenomena Rojali-Rohana, memang pasar Indonesia ini unik, tapi jangan lupa bahwa kita ini ada namanya Lipstick Index," ungkap Ajib saat ditemui di kantor APINDO, Jakarta, pada Kamis (31/7).
Konsep Lipstick Index menggambarkan situasi di mana masyarakat tetap melakukan pembelian produk tersier atau hiburan, meskipun daya beli secara umum mengalami penurunan.
"Misalnya begini, teman-teman bisa lihat kalau kita menonton bola atau kalau ada konser-konser, tiket baru keluar saja biasanya kehabisan," jelasnya.
Ajib menjelaskan bahwa saat ini masyarakat lebih selektif dalam memilih kebutuhan pokok, tetapi tetap menyisihkan anggaran untuk konsumsi hiburan atau barang-barang tersier. Ia menambahkan bahwa perubahan ini bukan hanya disebabkan oleh melemahnya daya beli, melainkan juga karena pola konsumsi yang mengalami perubahan.
Ia optimis, istilah Rojali-Rohana akan memudar seiring meningkatnya daya beli masyarakat. "Jadi, saya pikir Rojali-Rohana ini nanti akan dengan sendirinya mulai hilang, dan mulai berbelanja, saat kemampuan daya beli mereka naik, dan pertumbuhan ekonomi kita bisa bertumbuh sesuai harapan," tutupnya.
Pentingnya Daya Saing Produk Lokal
Ketua Bidang Perdagangan Apindo, Anne Patricia Sutanto, menekankan pentingnya meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia. Ia menyatakan bahwa jika produk lokal mampu bersaing di pasar domestik, maka masalah penyelundupan dan barang ilegal akan lebih mudah diatasi.
Anne percaya bahwa kekuatan daya saing di dalam negeri akan memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional. Ia juga berharap istilah Rojali dan Rohana dapat digantikan dengan "Robeli" atau Rombongan Benar Beli.
"Kalau kita ini berdaya saing, otomatis investasi yang ada bertumbuh, tidak berkurang dan juga investasi yang ada bisa memberikan buying power. Jadi istilah Rohana-Rojali itu bisa tidak menjadi Rohana-Rojali, tapi jadi Robeli atau Rombongan Benar Beli," pungkasnya.
Dengan demikian, upaya untuk meningkatkan daya saing produk lokal tidak hanya akan memberikan dampak positif bagi pasar domestik, tetapi juga akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Diskon dan Insentif Tingkatkan Daya Beli Rojali
Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), mengungkapkan bahwa para pelaku ritel sedang mempersiapkan diri untuk menyambut Hari Belanja Nasional yang diperingati menjelang tanggal 17 Agustus. Mereka akan meluncurkan berbagai program diskon besar-besaran.
Menurutnya, acara potongan harga ini bisa menjadi momen penting untuk meningkatkan konsumsi domestik, termasuk mendorong kelompok konsumen yang jarang berbelanja, yang disebut "Rojali", serta mereka yang hanya menanyakan harga, atau "Rohana", untuk melakukan pembelian.
Shinta juga menambahkan bahwa jika program diskon ini dipadukan dengan insentif atau stimulus dari pemerintah, dampaknya akan lebih signifikan di sektor riil.
"Kalau kita lihat program dengan para retailer juga akan berlangsung dengan diskon besar menjelang 17 Agustus 'Hari belanja nasional' dan saya rasa di regulasi kebijakan juga sudah ada beberapa insentif-insentif diskon yang disiapkan Pemerintah," ujarnya saat ditemui di kantor APINDO, Jakarta, pada Selasa, 29 Juli 2025.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4995048/original/088256300_1730975735-Infografis_SQ_Efek_Donald_Trump_Menang_Pilpres_AS_ke_Perekonomian_Global.jpg)