DEN Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Percepat Transisi Energi di Kalbar
Dewan Energi Nasional (DEN) mendorong kolaborasi erat lintas sektor untuk mempercepat transisi energi di Kalimantan Barat (Kalbar), menekankan pentingnya peran bersama dalam mencapai ketahanan energi nasional yang berkelanjutan.
Dewan Energi Nasional (DEN) aktif mendorong percepatan transisi energi di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat (Kalbar). Inisiatif ini diwujudkan melalui penguatan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan berbagai pihak terkait. Seminar Nasional Energi Terbarukan di Pontianak menjadi wadah utama untuk membahas strategi dan langkah konkret menuju energi bersih.
Acara penting ini diselenggarakan bersama Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) di Pontianak pada hari Sabtu. Tujuannya adalah untuk menyatukan pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat dalam upaya kolektif mewujudkan masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Anggota DEN dari unsur pemangku kepentingan, Muhammad Kholid Syeirazi, menegaskan bahwa transisi menuju energi bersih tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah. Keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan untuk mencapai target ketahanan energi nasional.
Memperkuat Ketahanan Energi Melalui Kolaborasi Lintas Sektor
Muhammad Kholid Syeirazi menyoroti pentingnya kolaborasi erat antara berbagai pemangku kepentingan dalam mewujudkan transisi energi. Menurutnya, masa depan energi Indonesia akan dibangun secara bersama-sama melalui sinergi yang kuat dan terkoordinasi. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap elemen masyarakat memiliki peran dalam mencapai tujuan energi bersih.
Indeks Ketahanan Energi Indonesia saat ini berada pada level 7,13, yang dikategorikan sebagai “tahan”. DEN menargetkan peningkatan status ini menjadi “sangat tahan” pada periode 2028–2029. Pencapaian target ambisius ini akan didukung oleh kebijakan yang terintegrasi dan konsisten dari pemerintah.
Kholid optimistis bahwa target peningkatan ketahanan energi dapat tercapai melalui penguatan kebijakan yang terkoordinasi. Hal ini mencakup upaya bersama untuk memastikan ketersediaan energi yang andal, terjangkau, dan bersih bagi seluruh masyarakat. Keberhasilan transisi energi di Kalbar akan menjadi contoh nyata komitmen nasional.
Strategi Percepatan Transisi Energi dan Penguatan Pasokan Nasional
Dalam paparannya, Kholid Syeirazi menguraikan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi dan mempercepat transisi. Salah satu prioritas utama adalah percepatan pembentukan Cadangan Penyangga Energi (CPE). Penguatan CPE dianggap krusial untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional dalam jangka panjang.
Pemerintah juga berfokus pada pengurangan impor bahan bakar minyak (BBM) melalui peningkatan bauran biofuel dan substitusi LPG. Selain itu, reformasi subsidi energi dilakukan agar lebih tepat sasaran, memastikan manfaatnya dirasakan oleh pihak yang membutuhkan. Langkah-langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Dorongan percepatan elektrifikasi kendaraan bermotor dan diversifikasi energi di sektor rumah tangga juga menjadi bagian integral dari strategi ini. Pemerintah sedang mengkaji revisi Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2024 untuk membuka peluang partisipasi swasta dalam pembangunan infrastruktur penyimpanan energi. Revisi ini diharapkan dapat mempercepat investasi di sektor energi.
Rasionalisasi Konsumsi dan Peran Energi Hijau dalam Pembangunan
Kholid menekankan pentingnya rasionalisasi konsumsi energi, khususnya pada komoditas BBM dan LPG. Pengelolaan konsumsi yang bijak akan berkontribusi pada efisiensi energi nasional serta keberlanjutan pasokan. Pengembangan biofuel berbasis sawit dan tebu juga didorong sebagai alternatif energi yang lebih berkelanjutan.
Energi merupakan faktor kunci dalam pembangunan nasional, sehingga penyediaan energi yang andal, terjangkau, dan bersih menjadi prasyarat utama. Proses transisi dari energi fosil menuju energi hijau memerlukan komitmen kuat dari semua pihak terkait. Ketersediaan energi yang stabil mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan seminar di Pontianak ini dibuka oleh Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan dan dihadiri sekitar 500 peserta dari berbagai kalangan. Forum ini menghadirkan narasumber ahli seperti Rektor UNU Kalbar Prof. Sukino dan Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Prof. Dwi Astiani. Dukungan PT Pertamina juga menegaskan komitmen implementasi kebijakan energi nasional di daerah.
Sumber: AntaraNews