Daya Saing Indonesia Anjlok, Terburuk Sejak Tahun 2022
Peringkat terburuk Indonesia tercatat pada 2022 saat menempati posisi ke-44.
Daya saing Indonesia berada di level terburuk menurut World Competitiveness Ranking (WCR) 2025 yang dirilis Institute for Management Development (IMD). Saat ini, peringkat kompetisi Indonesia berada di level 40 dari 69 negara yang disurvei.
Peringkat terburuk Indonesia tercatat pada 2022 saat menempati posisi ke-44. Namun, catatan tahun ini menghapus perkembangan positif yang telah diukir dua tahun terakhir. Di mana, peringkat daya saing Indonesia sempat mencapai posisi tertinggi pada tahun lalu.
Pengamat Ekonomi Indonesia Strategic and Economics Action Institution/ISEAI, Ronny P Sasmita mengatakan memang dalam waktu setahun ke belakang, Indonesia di mata imvestor global agak kurang positif.
"Dalam hemat saya, ada banyak hal yang menjadi penyebabnya, yang membuat investor, terutama investor global, agak was-was terhadap Indonesia belakangan," kata Ronny dalam keterangannya kepada merdeka.com, Rabu (25/6).
Adapun penyebab yang dimaksud Ronny, Pertama, terkait dengan semakin membesarnya peran pemerintah di dalam perekonomian nasional. Dalam kacamata investasi dan pasar, dia bilang peningkatan peran pemerintah memang dianggap kurang baik, karena akan mengurangi tingkat level playing field pada pasar di satu sisi dan meningkatkan potensi distorsi di dalam pasar di sisi lain.
"Dalam hal ini, kehadiran Danantara juga dianggap bagian dari peningkatan peran pemerintah," tegasnya.
Pungli Masih Jadi Momok
Kedua, tingkat korupsi dan pungli yang masih sangat tinggi, termasuk yang dilakukan oleh Ormas. Hal ini membuat biaya investasi menjadi semakin mahal di Indonesia
Ketiga, pelayanan investasi yang masih kurang sensitif terhadap kebutuhan investor di satu sisi dan berbelit-belit di sisi lain. Bahkan, pengaruh politik masih terbilang besar di dalam cepat atau lambatnya pelayanan investasi oleh pemerintah
Keempat, masih rendahnya tingkat kepastian hukum di Indonesia, sehingga jaminan terkait dengan property right juga rendah, yang membuat investor masih was-was untuk berinvestasi di sektor-sektor tertentu, apalagi dengan nominal yang jumbo.
"Sulitnya pembebasan lahan di Indonesia termasuk ke dalam kategori ini," jelas dia.
Kelima, biaya energi untuk industri masih terbilang mahal, yang membuat biaya produksi di Indonesia tetap tinggi, sehingga agak sulit menghasilkam produk-produk dengan harga kompetitif, sehingga akhirnya sulit bersaing dengan produk-produk impor dari China dan Vietnam.
Keenam, kualitas SDM yang masih rendah dan kurang terkait langsung dengan kebutuhan industri dan kebutuhan investasi baru
Ketujuh, ekosistem ekonomi dan industri Indonesia belum terlalu tersambung dengan global supply chain, yang membuat investor global kesulitan di dalam mengintegrasikan investasinya dengan kebutuhan global.
Dan terakhir, menurutnya belum jelasnya arah kebijakan ekonomi strategis nasional, hingga saat ini publik dan investor masih menerka-nerka kemana arah kebijakan ekonomi Prabowo, karena secara fiskal terlihat bahwa banyak kebijakan pemerintah yang justru semakin membebani keuangan negara yang berpotensi meningkatkan utang.
"Sementara di sisi lain, pemerihtah belum terlihat serius di dalam meningkatkan tax ratio," tutup Ronny.