Dampak Tarif Trump: Pasar Ekspor Perikanan Indonesia Terguncang
Dia menekankan bahwa tarif sebesar 32 persen ini akan berdampak langsung pada daya saing dan kinerja ekspor sektor kelautan Indonesia.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono angkat suarat terhadap kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan oleh pemerintah Amerika Serikat pada produk ekspor Indonesia.
Dia menekankan bahwa tarif sebesar 32 persen ini akan berdampak langsung pada daya saing dan kinerja ekspor sektor kelautan Indonesia, terutama untuk komoditas perikanan yang selama ini banyak ditujukan ke pasar AS.
"Dari sektor perikanan potensi ekonominya tidak kurang dari USD200 miliar valuasinya. Tapi Indonesia ekspornya baru rata-rata di USD5,5 miliar dan itu pun yang terbesar arahnya adalah ke Amerika," kata Trenggono dalam Rapat Kerja Teknis Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut, di Hotel Borobudur, Selasa (15/7).
Dia juga menambahkan bahwa kebijakan perdagangan ini merupakan bentuk tekanan yang perlu dihadapi dengan strategi yang cerdas dan tepat. Diketahui bahwa Amerika Serikat telah menerapkan sistem perdagangan resiprokal sebagai respons terhadap ketidakseimbangan dalam perdagangan.
Tarif yang tinggi ini dianggap sebagai tindakan balasan terhadap negara-negara yang menerapkan hambatan perdagangan terhadap produk-produk Amerika. "Dengan situasi perdagangan Amerika yang sekarang ada sistem kebijakan resiprokal, makanya akan berdampak juga kepada kita," ujarnya.
Perlu Penilaian Ketergantungan Pasar pada Amerika Serikat
Trenggono menyatakan bahwa Indonesia harus melakukan evaluasi terhadap ketergantungan yang ada pada pasar tertentu. Selain itu, penting untuk memperkuat hubungan diplomasi perdagangan dengan negara-negara lain di luar Amerika Serikat.
"Kemudian potensi Eropa Potensi Cina di Asia juga begitu besar. Kita tidak cerdas kalau kita tidak mampu bisa berbuat banyak untuk mengambil potensi itu untuk kepentingan ekonomi kita yang lebih baik," ujarnya.
Diversifikasi pasar menjadi salah satu fokus utama dalam strategi ekonomi nasional. Dengan mengeksplorasi peluang di Eropa dan Asia, Indonesia dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh ketergantungan pada satu pasar. Hal ini juga mencerminkan perlunya pendekatan yang lebih proaktif dalam menjalin kerjasama internasional untuk mencapai tujuan ekonomi yang lebih baik.