Cara Bertahan Gen Z di Kantor: Pura-Pura Sibuk dengan Ngetik Keyboard Keras-Keras
Di lingkungan kantor, banyak orang menggunakan berbagai cara untuk terlihat sibuk.
Ketika banyak perusahaan mendorong karyawan untuk kembali ke kantor, terutama setelah pandemi, Generasi Z menghadapi tantangan baru dalam dunia kerja. Mereka harus beradaptasi dengan kebijakan yang mengharuskan mereka untuk tetap hadir di kantor, sambil tetap menjaga citra produktif mereka di mata atasan. Salah satu cara yang muncul untuk menghadapi hal ini adalah fenomena yang disebut "taskmasking."
Taskmasking mengacu pada upaya karyawan untuk terlihat sibuk, meskipun sebenarnya tidak melakukan pekerjaan yang substansial. Salah satu cara yang umum dilakukan adalah dengan berpura-pura sibuk, seperti berjalan cepat dengan membawa laptop atau clipboard, atau mengetik dengan suara keras meskipun pekerjaan yang dilakukan tidak relevan.
Sebagaimana yang diulas oleh The Guardian, fenomena ini semakin meluas seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang mengharuskan karyawan bekerja di kantor. Amazon, Goldman Sachs, Dell, Condé Nast, dan The Washington Post adalah beberapa perusahaan besar yang telah memberlakukan kebijakan ini. Banyak pekerja muda yang sebelumnya terbiasa bekerja dari rumah kini merasa harus menyesuaikan diri dengan norma baru di kantor, dan taskmasking menjadi salah satu cara mereka beradaptasi.
Fenomena ini sebelumnya telah disebutkan oleh penulis budaya Anne Helen Petersen pada 2019 dengan istilah “Larping your job,” yang menggambarkan bagaimana pekerja melakukan "peran" pekerjaan mereka baik secara langsung dengan menghadiri rapat atau bekerja hingga larut malam, maupun secara digital dengan mengirim banyak email dan menghabiskan waktu di platform obrolan.
Seberapa Penting Kerja di Kantor?
Gabrielle Judge, seorang kreator konten dan mantan pekerja di sektor teknologi, mengungkapkan bahwa di lingkungan kantor, banyak orang menggunakan berbagai cara untuk terlihat sibuk.
"Beberapa orang akan terlihat sibuk dengan mengenakan AirPod sepanjang hari atau hanya menatap komputer mereka dengan serius," ujarnya.
Meskipun "taskmasking" tidak menyelesaikan pekerjaan, hal itu dapat terasa melelahkan bagi mereka yang melakukannya.
"Mengenakan masker sosial sepanjang waktu di tempat kerja membuat kita sangat lelah meskipun kita tidak melakukan hal yang berbeda dari sebelumnya," kata Judge, mengacu pada kelelahan sosial yang muncul akibat berusaha tampil sibuk.
Cierra Gross, mantan profesional SDM di Google dan ExxonMobil, menilai taskmasking sebagai akibat dari masalah lebih besar terkait kebijakan perusahaan yang mengembalikan pekerja ke kantor.
"Taskmasking mungkin lebih sering dilakukan oleh pekerja dengan kinerja rendah, tetapi bahkan pekerja yang sangat produktif pun bisa melakukannya untuk menjaga citra," kata Gross.
Berdasarkan pengamatan, meskipun taskmasking bisa menjadi solusi sementara bagi banyak pekerja, hal ini juga menunjukkan ketidakpuasan yang lebih besar terhadap budaya kantor tradisional.
Para pengusaha dan manajer kini dihadapkan pada pertanyaan penting: Seberapa pentingkah kebersamaan di kantor, jika hal tersebut hanya memicu fenomena seperti taskmasking?