Ketika Satu Pekerjaan Tak Lagi Cukup, Muncul Tren Karyawan 'Poligami'
Fenomena ini juga membuka babak baru dalam budaya kerja modern, khususnya di kalangan anak muda.
Apakah kita baru saja melewati masa di mana dunia kerja diramaikan oleh tren quiet quitting fenomena ketika karyawan bekerja sesuai tugas dasar saja tanpa ingin terlibat lebih dan kini memasuki fase baru yang lebih kompleks: para “pekerja poligami”?
Dilansir dari Financial Times, istilah ini bukan soal hubungan romantis atau pernikahan jamak. Pekerja poligami merujuk pada mereka yang memiliki lebih dari satu pekerjaan secara bersamaan, diam-diam menggandakan penghasilan, tanpa sepengetahuan atasan utama mereka. Fenomena ini bisa berupa pekerjaan sampingan, pekerjaan serabutan, hingga peran ganda penuh waktu yang dilakukan bersamaan secara daring.
Di Inggris, isu ini menjadi sorotan usai Departemen Lingkungan Hidup, Pangan, dan Urusan Pedesaan menemukan seorang karyawan tetap yang ternyata juga bekerja di Departemen Kesehatan.
Laporan dari National Fraud Initiative bahkan mengungkap bahwa 23 kasus serupa terjadi di salah satu dewan kota London, dengan kerugian gaji berlebih mencapai £500.000 atau setara Rp11 miliar. Investigasi lebih lanjut tengah digelar secara nasional.
Pandemi dan sistem kerja dari rumah diyakini membuka celah bagi praktik ini. Dengan pengawasan yang minim, beberapa pekerja berhasil membagi waktu antar pekerjaan secara paralel. Bahkan ada yang hanya memberikan “40 persen usaha” untuk masing-masing pekerjaan. Tak heran jika banyak orang mulai mempertanyakan: bagaimana seseorang bisa menjalani dua pekerjaan penuh waktu dan tetap waras?
Namun, ini bukan sekadar soal etika kerja. Sebagian pekerja menganggap langkah ini sebagai bentuk adaptasi terhadap rasa bosan atau ketidakpuasan di tempat kerja utama mereka.
Ada yang bahkan memilih jalan ekstrem seperti insinyur perangkat lunak asal Amerika Serikat yang mengalihdayakan seluruh tugasnya ke pekerja di Tiongkok, lalu menghabiskan harinya menonton video kucing.
Mencari Solusi
Beberapa pihak menyarankan solusi sederhana: kembalikan semua pekerja ke kantor. Namun apakah ini jawaban terbaik? Atau justru menandakan kegagalan perusahaan menciptakan pekerjaan yang bermakna dan produktif?
Fenomena ini juga membuka babak baru dalam budaya kerja modern, khususnya di kalangan anak muda. Generasi Z, meskipun bukan satu-satunya pelaku, sangat aktif mendiskusikan perubahan nilai dan etika kerja di media sosial. Mereka menciptakan istilah seperti quiet quitting, task masking, hingga lazy girl jobs, yang semua menjadi bagian dari narasi tentang resistensi terhadap sistem kerja konvensional.
Menurut pakar bahasa Tony Thorne, istilah-istilah ini diciptakan secara sadar untuk menyebar layaknya meme, simbol protes yang kreatif dan mudah viral. Ini bukan soal kemalasan, tapi tentang redefinisi cara kita bekerja dan bagaimana kita memaknai “profesionalisme” di era pasca-pandemi dan krisis global.
Pekerjaan ganda mungkin terdengar seperti pengkhianatan terhadap satu atasan. Tapi kreativitas di balik budaya kerja yang fleksibel ini juga merupakan cerminan dari kecerdasan bertahan hidup dalam lanskap ekonomi yang tak menentu.
Dan ironisnya, inilah jenis inovasi yang biasanya disukai bos, selama mereka tak tahu Anda juga punya bos lain.