Bulog Siapkan Kapasitas Gudang 2,1 Juta Ton untuk Dukung Penyerapan Panen Raya 2026
Perum Bulog memastikan kesiapan Kapasitas Gudang Bulog mencapai 2,1 juta ton untuk mengantisipasi penyerapan beras menjelang panen raya 2026, sekaligus mendukung stabilitas pangan nasional.
Perum Bulog mengumumkan kesiapan signifikan dalam menghadapi panen raya 2026 dengan menyiapkan kapasitas gudang yang memadai. Langkah ini diambil untuk mendukung penyerapan beras secara optimal dari petani. Kesiapan ini menjadi krusial mengingat target penyerapan beras yang meningkat pada tahun mendatang.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa total kapasitas gudang yang tersedia mencapai sekitar 2,1 juta ton. Angka tersebut merupakan gabungan dari ruang gudang kosong dan gudang cadangan yang telah disiapkan secara matang. Ketersediaan ruang simpan ini diharapkan mampu menampung hasil panen raya.
Rizal menambahkan, Bulog saat ini mengelola 1.586 gudang milik sendiri serta lebih dari 100 gudang sewa di berbagai wilayah Indonesia. Meskipun demikian, jajaran pimpinan wilayah dan cabang Bulog tetap diinstruksikan untuk mencari tambahan kapasitas. Hal ini dilakukan demi mengantisipasi lonjakan arus masuk beras pada tahun 2026 mendatang.
Kesiapan Kapasitas Gudang Bulog Hadapi Panen Raya
Perum Bulog menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga ketahanan pangan nasional dengan memastikan ketersediaan Kapasitas Gudang Bulog. Ruang gudang kosong Bulog saat ini mencapai sekitar 900 ribu ton, yang siap digunakan. Ditambah dengan gudang cadangan berkapasitas 1,2 juta ton, total daya tampung mencapai 2,1 juta ton.
Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan bahwa kapasitas gudang sebesar 2,1 juta ton ini sudah aman untuk menampung penyerapan awal. Namun, Bulog menargetkan penyerapan beras hingga 4 juta ton pada tahun 2026. Sementara itu, stok beras yang tersimpan di gudang saat ini masih sekitar 3,2 juta ton.
Untuk mengantisipasi kebutuhan penyimpanan yang lebih besar, terutama pada semester II tahun 2026, Bulog mendorong pencarian tambahan kapasitas gudang sekitar 2 juta ton. Hal ini dilakukan untuk memastikan seluruh hasil panen raya dapat terserap dengan baik. Upaya ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Bulog dalam mengelola stok pangan.
Peran Bulog dalam Distribusi Minyakita dan Pengawasan Harga
Selain fokus pada Kapasitas Gudang Bulog, Perum Bulog juga memiliki peran penting dalam stabilisasi harga kebutuhan pokok lainnya, seperti distribusi Minyakita. Bulog ditugaskan mengelola 70 persen dari porsi kewajiban pasar dalam negeri (DMO) sebesar 35 persen dari total alokasi minyak goreng. Arahan ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Direktur Pemasaran Perum Bulog, Febby Novita, mengungkapkan bahwa hingga saat ini Bulog baru memperoleh alokasi sekitar 36 ribu ton Minyakita. Padahal, estimasi total DMO diperkirakan mencapai 60 ribu ton per bulan, atau sekitar 700 ribu ton per tahun. Bulog terus berupaya agar alokasi yang diterima dapat sesuai dengan target yang ditetapkan.
Proses distribusi Minyakita oleh Bulog kini dilakukan langsung ke pengecer, sesuai ketentuan Kementerian Perdagangan. Bulog tidak lagi menyalurkan produk melalui distributor tingkat dua (D2). Bulog membeli Minyakita dari produsen seharga Rp13.500 per liter dan menjualnya kepada pengecer dengan harga Rp14.500 per liter.
Harga jual ke pengecer tersebut sudah memperhitungkan biaya distribusi dan logistik. Febby Novita menekankan pentingnya pengawasan distribusi bersama Satgas Pangan. Tujuannya adalah memastikan harga jual Minyakita kepada konsumen akhir tidak melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter.
Sumber: AntaraNews