Perum Bulog mengumumkan adanya permintaan signifikan untuk impor beras dari Malaysia, dengan volume mencapai sekitar 200 ribu ton. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan potensi besar ini di Jakarta. Permintaan tersebut membuka peluang baru bagi Ekspor Beras Indonesia di pasar internasional.
Rizal Ramdhani menyampaikan informasi ini usai Rapat Percepatan Realisasi Pendanaan Penyerapan Gabah Setara Beras di Kantor Bulog Jakarta, Senin. Salah satu direktur Bulog telah ditugaskan untuk menindaklanjuti permintaan tersebut di Malaysia. Langkah ini bertujuan membahas lebih lanjut skema kerja sama yang saling menguntungkan.
Peluang Ekspor Beras Indonesia ini diharapkan dapat memperkuat posisi negara di kancah global. Selain itu, realisasi ekspor ini juga berpotensi memberikan nilai tambah signifikan bagi pengelolaan cadangan beras nasional. Bulog kini tengah menjajaki kesiapan pasokan dan detail kerja sama.
Advertisement
Advertisement
Permintaan impor beras dari Malaysia yang mencapai 200 ribu ton merupakan jumlah yang tergolong besar. Hal ini menunjukkan adanya potensi pasar ekspor beras Indonesia yang sangat terbuka. “Kemarin salah satu direktur kami juga diminta berangkat ke Malaysia karena Malaysia ada permintaan impor beras (dari Indonesia) tidak kurang dari 200 ribu ton,” kata Rizal.
Saat ini, Bulog masih dalam tahap penjajakan untuk memastikan kesiapan pasokan yang memadai. Selain itu, Bulog juga berupaya merumuskan skema kerja sama yang dapat memberikan manfaat optimal bagi kedua belah pihak. Diskusi lebih lanjut dengan pihak terkait di Malaysia menjadi krusial dalam proses ini.
Rizal berharap peluang Ekspor Beras Indonesia ini dapat segera terealisasi. Keberhasilan ekspor tidak hanya akan memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional, tetapi juga memberikan nilai tambah. Ini juga akan mendukung upaya pengelolaan cadangan beras nasional yang lebih efektif. “Ini cukup besar jumlahnya. Nah sekarang sedang dijajaki, mudah-mudahan bisa memberikan peluang ekspor ke negara tetangga kita,” tambah Rizal.
Advertisement
Advertisement
Dalam kesempatan yang sama, Rizal juga menyampaikan capaian penyerapan gabah petani di dalam negeri. Hingga tanggal 13 April 2026, penyerapan telah mencapai sekitar 48,7 persen. Angka ini setara dengan 1,9 juta ton dari target 4 juta ton setara beras yang telah ditetapkan.
Capaian tersebut menunjukkan progres yang cukup signifikan dalam upaya memenuhi target penyerapan beras nasional. Target ini telah ditetapkan oleh pemerintah untuk tahun 2026. Upaya berkelanjutan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan pangan.
Sementara itu, total stok beras Bulog hingga tanggal yang sama tercatat mencapai sekitar 4,727 juta ton. Stok ini tersimpan di berbagai gudang penyimpanan milik BUMN pangan tersebut. Jumlah ini menunjukkan kapasitas Bulog dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Advertisement
Advertisement
Rizal memproyeksikan bahwa dalam waktu satu minggu hingga sepuluh hari ke depan, stok cadangan beras pemerintah (CBP) berpotensi menembus angka 5 juta ton. Proyeksi ini didasarkan pada percepatan penyerapan yang terus dilakukan oleh Bulog.
Percepatan penyerapan gabah dan beras dari petani menjadi prioritas utama Bulog. Langkah ini penting untuk memastikan ketersediaan pasokan. Hal ini juga mendukung stabilitas harga di tingkat konsumen.
Strategi Bulog tidak hanya berfokus pada penyerapan domestik, tetapi juga pada optimalisasi peluang ekspor. Dengan menjaga cadangan yang kuat dan memanfaatkan potensi pasar internasional, Bulog berperan penting dalam ketahanan pangan dan ekonomi negara.
Advertisement
Sumber: AntaraNews