Bulog Maksimalkan Pengawasan untuk Jaga Stabilitas Harga Beras Nasional
Perum Bulog menegaskan pengawasan harga beras terus dimaksimalkan demi menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen, sekalipun Indonesia telah mencapai swasembada beras. Bagaimana Bulog memastikan ini?
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa pengawasan harga beras di Indonesia akan terus dimaksimalkan. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen, meskipun Indonesia telah berhasil mencapai swasembada komoditas pangan utama tersebut. Penegasan ini disampaikan di Jakarta pada Minggu, 11 Januari, di sela Rapat Kerja Nasional Bulog.
Rizal menjelaskan bahwa harga beras di pasaran tetap mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. HET berfungsi sebagai instrumen penting untuk pengendalian harga dan perlindungan daya beli masyarakat luas. Hal ini menjadi fokus utama Bulog dalam setiap kebijakan yang diterapkan.
Dalam upaya menjaga stabilitas tersebut, Bulog melakukan koordinasi intensif dengan berbagai kementerian terkait. Inspeksi mendadak (sidak) ke pasar-pasar di seluruh Indonesia juga rutin dilaksanakan. Tujuannya adalah memastikan tidak ada lonjakan harga yang signifikan, terutama menjelang periode hari besar seperti Natal dan Tahun Baru 2025/2026.
Koordinasi Lintas Kementerian Jaga Harga
Perum Bulog tidak bekerja sendiri dalam menjaga stabilitas harga beras di pasaran. Rizal mengungkapkan bahwa pihaknya aktif berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, dan Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso. Bersama-sama, mereka melakukan kunjungan kerja dan sidak ke berbagai pasar di seluruh wilayah Indonesia.
Keterlibatan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Satgas Pangan juga menjadi kunci dalam upaya pengendalian harga ini. Satgas Pangan, yang terjun langsung ke lapangan, berperan besar dalam memantau kondisi harga secara real-time. Kehadiran mereka memastikan tidak ada kenaikan harga yang mencolok di tingkat pedagang.
Berdasarkan pemantauan yang dilakukan Bulog dan tim gabungan, tidak ditemukan lonjakan harga beras maupun sembako yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini terpantau stabil, bahkan menjelang periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Stabilitas ini menunjukkan efektivitas pengawasan dan koordinasi yang telah berjalan.
Hasil Pemantauan Lapangan dan Stok Nasional
Rizal membeberkan hasil pantauan langsung di lapangan yang menunjukkan harga beras tetap terkendali sesuai HET. Harga beras medium terpantau berada di kisaran maksimal Rp12.500 per kilogram. Sementara itu, harga beras premium tercatat maksimal Rp14.900 per kilogram.
"Buktinya di lapangan enggak ada yang naik (harga beras) gitu loh, karena harga beras medium itu maksimal Rp12.500 per kg, beras premium adalah Rp14.900 per kg," terang Rizal. Kutipan ini menegaskan bahwa harga jual di pasar sesuai dengan HET yang berlaku.
Keberhasilan pengendalian harga ini tidak lepas dari konsistensi pengawasan distribusi dan ketersediaan stok beras nasional yang dinilai cukup aman. Bulog memastikan bahwa stok beras di seluruh Indonesia dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pengawasan akan terus diperkuat demi keberlanjutan stabilitas pangan dan perlindungan konsumen nasional secara berkelanjutan.
Indonesia Capai Swasembada Pangan 2025
Stabilitas harga dan ketersediaan beras juga didukung oleh pencapaian penting Indonesia dalam sektor pangan. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa Indonesia resmi mencapai swasembada pangan, khususnya beras, pada tahun 2025. Pengumuman bersejarah ini disampaikan saat menghadiri acara panen raya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Rabu, 7 Januari.
"Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahmin, pada pagi hari ini, hari Rabu, 7 Januari 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan tahun 2025 bagi seluruh bangsa Indonesia. Terima kasih," kata Presiden Prabowo. Pernyataan ini menandai tonggak penting bagi ketahanan pangan nasional.
Pencapaian swasembada ini menjadi dasar kuat bagi Bulog untuk terus menjaga stabilitas. Dengan produksi yang mencukupi, risiko fluktuasi harga akibat ketergantungan impor dapat diminimalisir. Bulog berkomitmen untuk terus menjaga pengawasan harga dan distribusi demi melindungi konsumen.
Sumber: AntaraNews