BPS Nabire Kerahkan 200 Petugas untuk Sukseskan Sensus Ekonomi 2026, Fokus Digitalisasi
BPS Nabire mengerahkan 200 petugas untuk Sensus Ekonomi 2026 yang akan mendata seluruh pelaku usaha, termasuk sektor digital, guna memperoleh gambaran ekonomi riil yang akurat.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nabire, Papua Tengah, bersiap melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 dengan mengerahkan 200 petugas. Kegiatan penting ini dijadwalkan berlangsung mulai Mei hingga Juli 2026 di seluruh wilayah Kabupaten Nabire. Sensus ini bertujuan untuk mendapatkan data ekonomi riil masyarakat yang lebih lengkap dan akurat, terutama dengan fokus pada perkembangan ekonomi digital.
Kepala BPS Nabire, Dio Ginting, menyatakan kebutuhan 200 petugas tersebut sangat krusial untuk menjangkau 15 distrik, 9 kelurahan, dan 72 kampung di Nabire. Proses rekrutmen petugas akan dibuka pada Maret 2026, dengan prioritas diberikan kepada pendaftar yang memiliki pengalaman dalam kegiatan survei lapangan.
Para calon petugas sensus akan menjalani pembekalan intensif pada April sebelum diterjunkan ke lapangan secara serentak. Pelaksanaan sensus akan dimulai dengan sensus mandiri bagi usaha menengah dan besar pada Mei, diikuti pendataan langsung dari rumah ke rumah untuk usaha mikro, kecil, serta pelaku ekonomi digital pada Juni dan Juli 2026.
Persiapan Matang dan Rekrutmen Petugas Sensus Ekonomi 2026
Untuk memastikan cakupan yang komprehensif, BPS Nabire telah mengalokasikan 200 petugas yang akan bertugas di seluruh penjuru Kabupaten Nabire. Wilayah yang luas, meliputi 15 distrik, 9 kelurahan, dan 72 kampung, menuntut jumlah personel yang memadai. Proses rekrutmen petugas ini akan dimulai pada Maret 2026.
Dio Ginting menjelaskan bahwa BPS Nabire akan memprioritaskan pendaftar yang sudah memiliki pengalaman dalam kegiatan survei lapangan. Pengalaman ini diharapkan dapat memperlancar proses pendataan dan meningkatkan kualitas data yang dikumpulkan. Pembekalan bagi para petugas terpilih akan dilaksanakan pada April 2026.
Pembekalan tersebut penting untuk membekali petugas dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan saat berinteraksi dengan responden. Tahap ini juga memastikan keseragaman metode pendataan di lapangan. Petugas kemudian akan diterjunkan secara serentak pada Juni hingga Juli 2026 setelah sensus mandiri bagi usaha menengah dan besar pada Mei.
Menjangkau Pelaku Ekonomi Digital yang Berkembang Pesat
Sensus Ekonomi 2026 kali ini memiliki fokus yang lebih luas, tidak hanya pada pelaku usaha konvensional, tetapi juga mendata perkembangan pelaku usaha digital yang selama ini belum optimal. Dio Ginting menyoroti bahwa pada sensus terakhir tahun 2016, mayoritas pelaku usaha masih konvensional, namun kini perkembangan teknologi telah mengubah pola ekonomi masyarakat secara signifikan.
BPS Nabire berupaya menangkap gambaran ekonomi secara utuh, termasuk para pelaku usaha daring yang memanfaatkan berbagai platform. Ini mencakup pengguna WhatsApp, TikTok, Facebook, Instagram, hingga kreator konten seperti YouTuber atau TikToker yang memperoleh pendapatan dari aktivitas digital mereka. Pendataan ini menjadi krusial mengingat pesatnya pertumbuhan ekonomi digital.
Pendataan ekonomi digital memang memiliki tantangan tersendiri, terutama karena banyak pelaku usaha tidak memiliki kantor atau lokasi usaha yang jelas. Oleh karena itu, metode sensus akan dilakukan dengan pendekatan langsung dari rumah ke rumah. Petugas akan menelusuri apakah ada kegiatan ekonomi digital yang dilakukan oleh anggota rumah tangga.
Sebelum pelaksanaan sensus, BPS Nabire juga telah mulai memetakan aktivitas ekonomi daring di berbagai platform digital. Persiapan ini bertujuan agar petugas memiliki informasi awal yang dapat diverifikasi langsung saat pendataan lapangan. Cakupan sensus yang luas ini memang membutuhkan waktu pelaksanaan yang lebih panjang, yaitu selama tiga bulan.
Akurasi Data untuk Perencanaan Pembangunan
Melalui Sensus Ekonomi 2026, BPS berharap dapat memperoleh gambaran ekonomi riil masyarakat secara lebih lengkap dan mendalam. Data yang akurat ini sangat vital untuk perhitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB yang presisi akan menjadi dasar yang kuat bagi perencanaan pembangunan daerah.
Pendataan langsung dari rumah ke rumah, termasuk untuk pelaku bisnis digital, merupakan strategi untuk memastikan tidak ada sektor ekonomi yang terlewat. Informasi yang komprehensif dari sensus ini akan membantu pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang lebih tepat sasaran. Ini juga akan mendukung identifikasi potensi ekonomi baru.
Sensus yang dilakukan setiap 10 tahun sekali ini menjadi instrumen penting untuk memotret perubahan struktur ekonomi masyarakat. Dengan memasukkan sektor digital secara optimal, data yang dihasilkan akan lebih relevan dengan kondisi ekonomi saat ini. Hal ini memungkinkan BPS untuk menyajikan data yang representatif dan terpercaya.
Sumber: AntaraNews