Pertumbuhan Ekonomi Ciayumajakuning Melaju Pesat, Tembus 5,09 Persen di Tahun 2025
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon melaporkan pertumbuhan ekonomi Ciayumajakuning mencapai 5,09 persen pada 2025, meningkat signifikan dari tahun sebelumnya dan menunjukkan optimisme pasar.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon mengumumkan bahwa perekonomian di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan) diproyeksikan tumbuh sebesar 5,09 persen secara tahunan (yoy) pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan yang substansial dibandingkan capaian tahun 2024 yang tercatat sebesar 4,34 persen (yoy). Kenaikan ini menandakan pemulihan dan penguatan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Kepala KPw BI Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, menyampaikan langsung data tersebut di Cirebon pada Jumat (3/4). Peningkatan ini menegaskan optimisme terhadap prospek ekonomi regional. Wilayah Ciayumajakuning memiliki peran penting dalam perekonomian Jawa Barat, dengan kontribusi mencapai 10,24 persen dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi.
Kontribusi signifikan ini didukung oleh beberapa sektor lapangan usaha utama. Sektor-sektor tersebut meliputi industri pengolahan, pertanian, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, serta konstruksi. Data ini memberikan gambaran komprehensif mengenai dinamika ekonomi di Ciayumajakuning.
Kontribusi Wilayah dan Sektor Pendorong Pertumbuhan
Perekonomian Ciayumajakuning menunjukkan performa yang solid, dengan kontribusi signifikan dari berbagai daerah penyusunnya. Berdasarkan rincian PDRB, Kabupaten Indramayu menjadi kontributor terbesar. Wilayah ini menyumbang 3,73 persen terhadap total PDRB Ciayumajakuning.
Setelah Indramayu, Kabupaten Cirebon turut memberikan sumbangan penting sebesar 2,41 persen. Kemudian, Kabupaten Majalengka berkontribusi 1,65 persen, diikuti oleh Kabupaten Kuningan dengan 1,37 persen. Kota Cirebon melengkapi daftar dengan sumbangan sebesar 1,08 persen.
Struktur ekonomi yang beragam ini menjadi kekuatan utama bagi pertumbuhan regional. Sektor industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan besar serta eceran menjadi tulang punggung. Selain itu, sektor transportasi dan pergudangan, serta konstruksi, juga berperan vital dalam mendorong aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Indikator Ekonomi Makro dan Optimisme Konsumen
Selain pertumbuhan PDRB, indikator ekonomi makro di Ciayumajakuning juga menunjukkan tren positif. Pertumbuhan investasi pada tahun 2025 tercatat sebesar 5,27 persen (yoy). Angka ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap potensi ekonomi wilayah.
Meskipun demikian, beberapa tantangan tetap ada. Tingkat kemiskinan di wilayah ini berada pada level 9,02 persen, sementara tingkat pengangguran terbuka (TPT) tercatat sebesar 6,10 persen. Data ini menjadi perhatian untuk upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja.
Optimisme konsumen di Kota Cirebon menunjukkan peningkatan yang stabil. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Maret 2026 mencapai 145,8. Angka IKK di atas 100 mengindikasikan bahwa konsumen merasa optimis terhadap kondisi ekonomi saat ini dan prospek di masa depan.
Prospek Bisnis dan Tantangan Global
Hasil Liaison BI menunjukkan adanya perbaikan penjualan pelaku usaha pada triwulan I-2026. Level saldo (LS) total penjualan meningkat menjadi 0,69. Peningkatan penjualan domestik ini didorong oleh perbaikan permintaan dan optimisme masyarakat yang membaik.
Meskipun penjualan domestik menunjukkan geliat positif, penjualan ekspor masih menghadapi kontraksi. Kondisi ini disebabkan oleh ketidakpastian kondisi global yang masih berlanjut. Namun, secara umum, penjualan ke depan diperkirakan akan terus membaik seiring adaptasi terhadap dinamika pasar global.
Survei Kegiatan Dunia Usaha triwulan I 2026 memproyeksikan kegiatan usaha di Ciayumajakuning akan terus tumbuh. Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 40,7 persen mengindikasikan ekspansi bisnis. Investasi juga diperkirakan meningkat signifikan dengan SBT 13,59 persen, jauh lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang hanya 3,19 persen. Namun, sebagian industri masih bersikap menunggu (wait and see), tercermin dari indeks PMI kinerja industri pengolahan yang masih di bawah 50 persen, yaitu 43,47 persen.
Sumber: AntaraNews