BI Prediksi Ekonomi Bengkulu Terus Tumbuh Positif hingga 2026
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Bengkulu akan terus menunjukkan tren positif hingga tahun 2026. Prediksi ini didukung berbagai sektor. Apa saja pendorong utama pertumbuhan ekonomi Bengkulu ini?
Bank Indonesia (BI) memprediksi perekonomian Provinsi Bengkulu akan melanjutkan tren positifnya hingga tahun 2026. Pertumbuhan ekonomi daerah ini diperkirakan mampu mencapai angka 5,3 persen pada tahun tersebut. Proyeksi optimis ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap berbagai sektor pendorong.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu, Muhammad Irfan Octama, mengungkapkan bahwa pertumbuhan positif ini akan ditopang oleh penguatan lapangan usaha (LU) pertanian dan perdagangan. Selain itu, sektor Transportasi, Pergudangan (Transgud), Informasi dan Komunikasi (Infokom), serta Administrasi Pemerintahan juga didorong untuk menjadi motor pertumbuhan baru. Hal ini menunjukkan diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi Bengkulu.
Dari sisi pengeluaran, akselerasi ekonomi diperkirakan berasal dari terjaganya daya beli masyarakat. Kenaikan upah minimum provinsi (UMP), berlanjutnya program prioritas APBN, dampak belanja infrastruktur, dan naiknya harga komoditas menjadi faktor kunci. Stimulasi perekonomian juga datang dari kinerja investasi yang solid, didukung oleh program optimalisasi lahan dan cetak sawah, revitalisasi pelabuhan, serta proyek infrastruktur pemerintah daerah yang terus berjalan.
Pendorong Utama Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu
Perbaikan ekonomi Bengkulu secara signifikan didorong oleh prospek perbaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) dan Crude Palm Oil (CPO) kelapa sawit. Hal ini didukung oleh hasil program penanaman kembali kelapa sawit yang berkelanjutan. Selain itu, produksi pertanian dari program cetak sawah dan optimalisasi lahan juga berkontribusi besar terhadap kinerja sektor ini, menunjukkan potensi pertanian sebagai tulang punggung ekonomi.
Dorongan pertumbuhan juga terjadi karena perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjaga permintaan domestik. Terjaganya daya beli masyarakat dan pemulihan harga komoditas global turut mendukung. Efek lanjutan dari pemulihan jalur perdagangan laut juga memberikan kontribusi positif, memperkuat konektivitas dan aktivitas ekonomi Bengkulu.
Sektor transportasi juga diperkirakan akan mengalami pertumbuhan signifikan. Pertumbuhan lapangan usaha Transportasi akan didorong oleh ekspektasi kenaikan kunjungan wisatawan nusantara. Terutama seiring rencana MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) yang didorong oleh membaiknya daya beli masyarakat, menunjukkan potensi pariwisata sebagai sektor penggerak.
Kinerja Ekonomi dan Proyeksi Jangka Panjang
Perekonomian Bengkulu secara konsisten menunjukkan pemulihan pasca-pandemi COVID-19. Pada tahun 2021, ekonomi Bengkulu tumbuh 3,24 persen year-on-year (YoY). Kemudian, pada tahun 2022, pertumbuhan meningkat menjadi 4,31 persen, diikuti oleh 4,26 persen pada tahun 2023, dan 4,62 persen YoY pada tahun 2024.
Tren positif ini diperkirakan akan berlanjut pada tahun 2025, dengan perekonomian Bengkulu mampu tumbuh antara 4,4-5,2 persen YoY. Hingga Oktober 2025, pertumbuhan ekonomi kumulatif Provinsi Bengkulu tercatat sebesar 4,80 persen secara kumulatif (ctc). Angka-angka ini menunjukkan resiliensi dan potensi pertumbuhan berkelanjutan.
Meskipun kinerja ekspor diprakirakan positif, namun terbatas, didukung naiknya harga CPO dan kopi. Adapun prospek batu bara masih terbatas seiring menurunnya demand China dan India. Ini menunjukkan perlunya diversifikasi ekspor untuk menjaga stabilitas ekonomi Bengkulu.
Tantangan dan Risiko yang Perlu Diwaspadai
Meski berbagai sektor menunjukkan tren positif, Muhammad Irfan Octama mengingatkan beberapa risiko yang perlu dikelola secara cermat. Salah satunya adalah potensi penurunan transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) yang dapat memberikan tekanan pada ruang fiskal di daerah. Pengelolaan fiskal yang hati-hati menjadi kunci untuk menjaga stabilitas.
Risiko lain adalah penurunan permintaan dari mitra dagang utama, yang dipicu oleh regulasi terbatas perdagangan antar negara. Hal ini menuntut pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk mencari pasar alternatif atau memperkuat pasar domestik. Penyesuaian rencana tata ruang wilayah (RTRW) kawasan industri juga perlu terus dikawal untuk memastikan iklim investasi yang kondusif.
Selain itu, faktor cuaca yang tidak menentu juga menjadi perhatian serius. Perubahan cuaca ekstrem dapat berdampak negatif terhadap produktivitas komoditas unggulan Bengkulu, terutama di sektor pertanian. Mitigasi risiko dan adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan produksi dan pertumbuhan ekonomi.
Sumber: AntaraNews