Bos Mandiri Utama Finance Bicara Tantangan Daya Beli Industri Pembiayaan, Begini Strateginya Genjot Pertumbuhan Usaha
Tahun 2025 menjadi tantangan bagi industri pembiayaan
Direktur Utama Mandiri Utama Finance, Dapot Parasian S. Sinaga mengungkapkan bahwa tahun 2025 menjadi tantangan bagi industri pembiayaan. Menurut dia, eksekusi jaminan fidusia cukup terasa di tengah tekanan ekonomi dan tantangan dinamika di lapangan.
"2025 bukan tahun yang mudah bagi industri multifinance dan otomotif di Indonesia,” ujar Dapot dalam acara Media Gathering Ramadhan MUF di Chandaka Venue & Dining, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (5/3).
Kendati industri pembiayaan mengalami tantangan, Dapot bersyukur Mandiri Utama Finance menutup tahun 2025 dengan kinerja yang tetap tumbuh positif meskipun industri multifinance dan otomotif menghadapi berbagai tantangan.
Sepanjang 2025, Dapot menuturkan, MUF membukukan penyaluran pembiayaan sebesar Rp24,1 triliun atau tumbuh 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Aset perusahaan juga meningkat dari Rp34 triliun pada 2024 menjadi Rp40 triliun di 2025 atau naik 17 persen. Sementara itu, laba perusahaan melonjak dari Rp300 miliar menjadi Rp400 miliar atau tumbuh sekitar 33 persen.
Perbaikan kinerja tersebut diikuti oleh peningkatan kualitas pembiayaan. Rasio pembiayaan bermasalah (NPF) MUF turun dari 1,36 persen pada 2024 menjadi 1,3 persen pada 2025. Sementara itu, net credit loss juga berhasil ditekan dari 5 persen pada 2024 menjadi 4 persen pada 2025, dan pada awal 2026 kembali turun ke level sekitar 3 persen.
"Sangat challenging. Tapi kami bersyukur MUF tetap dapat tumbuh dan kualitas pembiayaan juga membaik secara signifikan," ujar dia.
Strategi Genjot Pertumbuhan Usaha
Menurut Dapot, salah satu kunci keberhasilan MUF adalah optimalisasi nasabah captive dari ekosistem perbankan. MUF memanfaatkan basis nasabah dari Bank Mandiri, Bank Syariah Indonesia (BSI), serta Permata Bank untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan yang lebih berkualitas.
“Di 2022 captive consumer kita masih di kisaran 20 persen. Pada 2025 sudah mencapai 51 persen. Dan ternyata nasabah captive yang bankable secara kualitas jauh lebih baik dibandingkan non-bankable,” jelas dia.
Strategi tersebut dinilai efektif menjaga kualitas portofolio pembiayaan sekaligus memperkuat pertumbuhan bisnis. Sebagai perusahaan pembiayaan yang baru berusia 11 tahun, MUF juga terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra perbankan guna memperluas basis nasabah dan memperkuat model bisnisnya.
Memasuki 2026, MUF akan melanjutkan strategi yang sudah berjalan dengan memperluas kerja sama dengan bank-bank lain, terutama dari kelompok bank KBMI 3. Selain itu, perusahaan juga menekankan penguatan kualitas sumber daya manusia sebagai pilar utama pertumbuhan bisnis. Dengan strategi itu, MUF menargetkan kinerja yang lebih baik pada tahun ini. Perusahaan ini membidik laba sekitar Rp417 miliar pada 2026, meskipun tantangan industri diperkirakan masih cukup berat.
“Target kami di 2026 adalah mencapai profit Rp417 miliar, walaupun memang tantangannya kemungkinan masih seberat tahun lalu,” kata Dapot.