BMKG Minta Petani Sultra Sesuaikan Jadwal Tanam Hadapi Kemarau 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta petani di Sulawesi Tenggara (Sultra) segera menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tahan kering guna meminimalkan dampak kekeringan akibat prediksi musim kemarau 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau para petani di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk segera menyesuaikan jadwal tanam. Imbauan ini bertujuan meminimalkan dampak kekeringan menyusul prediksi masuknya musim kemarau pada Juni 2026. Sektor pertanian menjadi fokus utama dalam langkah antisipasi dini ini.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Sultra, Kusairi, menyampaikan hal tersebut di Kendari pada Jumat (13/3). Ia menekankan pentingnya bagi petani untuk menyelaraskan aktivitas tanam mereka. Penyesuaian ini harus berdasarkan prakiraan musim atau iklim yang telah dirilis secara resmi oleh BMKG.
Langkah proaktif ini diharapkan dapat menjaga ketahanan pangan di wilayah Sultra. Petani diajak untuk tidak hanya mengandalkan kebiasaan lama. Mereka perlu beradaptasi dengan perubahan pola iklim yang diprediksi akan terjadi.
Strategi Adaptasi Petani untuk Kemarau 2026
Selain penyesuaian waktu tanam, BMKG juga menyarankan petani agar memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Pemilihan jenis tanaman yang membutuhkan sedikit air menjadi sangat krusial. Ini adalah upaya untuk menghadapi potensi kekeringan ekstrem di Sulawesi Tenggara.
Kusairi mengungkapkan bahwa pemilihan jenis tanaman dengan siklus tanam pendek juga dinilai menjadi kunci. Strategi ini efektif untuk menghindari risiko gagal panen yang lebih besar. Petani diharapkan dapat mengadopsi praktik pertanian yang lebih adaptif.
Varietas yang tahan kekeringan dan memiliki siklus tanam lebih singkat akan membantu petani. Ini akan memastikan hasil panen tetap optimal meskipun curah hujan berkurang. BMKG Sultra Kemarau 2026 menjadi perhatian serius bagi keberlangsungan sektor pangan.
Antisipasi Bencana dan Peran Pemerintah Daerah
Di samping sektor pertanian, Kusairi juga menyoroti pentingnya revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi air oleh pemerintah daerah. Langkah ini vital untuk menjamin ketersediaan air bagi masyarakat dan irigasi lahan pertanian. Ketersediaan air yang memadai adalah kunci dalam menghadapi musim kemarau 2026.
Terkait potensi bencana, BMKG mengingatkan adanya peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau. Selain itu, penurunan kualitas udara akibat polutan yang mudah terkonsentrasi saat cuaca kering juga menjadi ancaman. Masyarakat di Sultra perlu meningkatkan kewaspadaan.
Kusairi menambahkan bahwa musim kemarau ini juga rawan kebakaran, baik kebakaran hunian maupun karhutla. Potensi kekeringan yang meluas juga harus diantisipasi sejak dini oleh seluruh elemen masyarakat. BMKG Sultra Kemarau 2026 meminta semua pihak bersiap.
Sumber: AntaraNews