Ancaman Karhutla Kotim Meningkat, BMKG Ingatkan Waspada Kemarau Lebih Kering
BMKG Kotim mengingatkan ancaman karhutla di Kotawaringin Timur meningkat seiring masuknya musim kemarau yang diprediksi lebih kering dan panjang tahun ini, berpotensi sebabkan krisis air dan kabut asap.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit Kotawaringin Timur (Kotim) telah mengeluarkan peringatan dini. Peringatan ini terkait ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat seiring masuknya musim kemarau di wilayah setempat. Kepala BMKG Kotim, Mulyono Leo Nardo, menyatakan bahwa fenomena iklim global membuat musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dari sebelumnya.
Kondisi kemarau yang lebih kering ini diperkirakan meningkatkan risiko munculnya titik api dan karhutla. Selain itu, potensi krisis air bersih juga menjadi perhatian serius, khususnya di kawasan gambut. Mulyono Leo Nardo menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap peningkatan potensi karhutla pada tahun ini.
Meskipun masih ada hujan sesekali, Kotim sebenarnya sudah memasuki awal musim kemarau sejak Juni. Musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung relatif serentak di seluruh wilayah Kotim. Durasi kemarau diperkirakan mencapai 100 hingga 120 hari, lebih panjang dari kondisi normal beberapa tahun sebelumnya.
Prediksi Musim Kemarau Lebih Kering dan Panjang
BMKG Kotim memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh pengaruh fenomena iklim global yang mengarah dari kategori moderat menuju kuat. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya karhutla di berbagai wilayah.
Mulyono Leo Nardo menjelaskan bahwa meskipun hujan masih turun dalam beberapa hari terakhir, Kotim sebenarnya telah memasuki musim kemarau sejak awal Juni. Intensitas hujan akan secara bertahap mengalami penurunan seiring berjalannya waktu. Pergantian musim tidak selalu diikuti oleh perubahan cuaca secara langsung.
Pola musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung serentak di seluruh Kotim, meliputi bagian utara, tengah, maupun selatan. Awal kemarau diprediksi bersamaan sejak Juni dan akan berlanjut hingga sekitar 100 sampai 120 hari. Durasi ini lebih panjang dibandingkan kondisi normal yang biasanya hanya dua hingga tiga bulan.
Puncak musim kemarau di Kotim diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus hingga September 2026. Periode ini menjadi masa paling kritis yang memerlukan kewaspadaan tinggi dari seluruh pihak. Ancaman karhutla perlu menjadi perhatian serius mengingat cuaca kering berpotensi berlangsung cukup lama.
Wilayah Selatan Kotim Paling Rentan Karhutla dan Krisis Air
Wilayah selatan Kotim, seperti Kecamatan Pulau Hanaut, Teluk Sampit, dan Mentaya Hilir Selatan, diidentifikasi sebagai kawasan paling rawan terdampak musim kemarau. Daerah ini sangat berisiko terhadap ancaman karhutla dan potensi kabut asap. Kerawanan ini disebabkan oleh beberapa faktor geografis dan meteorologis.
Salah satu penyebab utama kerawanan di wilayah selatan adalah dominasi lahan gambut. Lahan gambut sangat mudah terbakar ketika mengalami kekeringan berkepanjangan. Jika terjadi kebakaran di area ini, asap diperkirakan akan bergerak menuju Kota Sampit dan sekitarnya.
Pergerakan asap ini dipengaruhi oleh arah angin timur yang diprediksi akan menguat selama musim kemarau. Kabut asap berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat serta menurunkan kualitas udara secara signifikan. Oleh karena itu, langkah pencegahan di wilayah selatan menjadi sangat krusial.
Selain karhutla, BMKG Kotim juga memperingatkan potensi kekeringan air bersih di sejumlah wilayah selatan Kotim. Menurunnya debit sungai saat kemarau panjang dapat memicu intrusi air laut. Kondisi ini menyebabkan kualitas air menjadi payau dan tidak layak konsumsi.
Imbauan BMKG untuk Pencegahan dan Mitigasi
Menanggapi potensi ancaman ini, Mulyono Leo Nardo mengimbau masyarakat Kotim untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah pencegahan. Imbauan pertama adalah agar masyarakat bijak dalam menggunakan air. Mengingat Kotim telah memasuki awal musim kemarau tahun 2026, konservasi air menjadi sangat penting.
Kedua, BMKG secara tegas mengingatkan agar masyarakat tidak membakar hutan secara sembarangan. Praktik pembakaran lahan merupakan pemicu utama karhutla yang dapat berdampak luas dan merusak lingkungan. Edukasi mengenai bahaya pembakaran lahan harus terus digalakkan.
Ketiga, masyarakat diimbau untuk selalu menjaga kesehatan. Kabut asap akibat karhutla dapat menyebabkan berbagai masalah pernapasan dan kesehatan lainnya. Dengan menjaga kesehatan, masyarakat dapat lebih siap menghadapi dampak musim kemarau dan potensi kabut asap.
Sumber: AntaraNews