BI: Ketidakpastian Global Masih Tinggi, Dipicu Perkembangan Tarif Dilakukan Trump
Setiap kebijakan baru yang dikeluarkan pemerintah AS kini langsung berdampak pada volatilitas ekonomi global, termasuk ke Indonesia.
Bank Indonesia (BI) menyebut bahwa ketidakpastian global akibat kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi perhitungan ekonomi nasional.
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Firman Mochtar menilai setiap kebijakan baru yang dikeluarkan pemerintah AS kini langsung berdampak pada volatilitas ekonomi global, termasuk ke Indonesia.
"Secara umum memang ketidakpastian global menurut bacaan yang lalu masih tinggi, termasuk dipengaruhi oleh bagaimana perkembangan tarif yang dilakukan oleh Presiden Trump," kata Firman dalam Taklimat Media: Mempertahankan Stabilitas Mendorong Pertumbuhan Ekonomi, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (24/7).
Oleh karena itu, Bank Indonesia mengaku terus melakukan perhitungan-perhitungan mendetail atas perkembangan kebijakan tarif tersebut. Ketidakpastian yang tinggi membuat stabilitas ekonomi global sulit diprediksi, terutama ketika kebijakan berubah dalam waktu yang sangat singkat.
"Kami melakukan banyak sekali perhitungan-perhitungan dari bulan ke bulan tentang tarif Trump yang terjadi,” ujarnya.
Hal ini menimbulkan tantangan besar bagi negara-negara berkembang dalam menjaga nilai tukar dan mengendalikan inflasi.
Namun demikian, Firman menekankan bahwa pemerintah dan otoritas moneter telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri. Kolaborasi antar lembaga fiskal dan moneter menjadi krusial dalam merespons dinamika global yang terus bergerak cepat.
Penurunan Tarif Trump Jadi Angin Segar
Meski sempat menjadi sorotan karena tingginya beban tarif, kabar baik datang yakni tarif terhadap Indonesia diturunkan dari 32 persen menjadi 19 persen.
"Informasi terkait dengan bahwa kita turun dari 32 persen menjadi 19 persen dan ini seperti disampaikan oleh Pak Gubernur, ini perkembangan positif dari perkiraan kita sebelumnya 32 persen," ujarnya.
Langkah ini dinilai sebagai sinyal positif dari hubungan dagang bilateral Indonesia-AS dan menciptakan ruang bagi pemulihan ekspor nasional ke Negeri Paman Sam.
Jaga Stabilitas dan Perkuat Daya Saing Domestik
Kendati tarif menurun, Firman mengingatkan bahwa tantangan belum sepenuhnya usai. Ketidakpastian ekonomi global tetap tinggi, terutama karena kebijakan dagang dan fiskal Amerika Serikat masih belum sepenuhnya stabil.
Yield obligasi AS tenor 10 tahun yang tetap tinggi mencerminkan tingginya persepsi risiko fiskal di negara tersebut. Situasi ini berdampak pada aliran modal global yang bergerak dari AS ke Eropa dan negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.
"Dampak tarif ini terus menjadi perhatian kita karena ini akan meningkatkan bagaimana biaya barang. Dari Amerika Serikat sendiri, yield USD ini memang menurun, tapi yang menjadi perhatian adalah bagaimana komposisi antara 2 dan 10 tahun. 10 tahun itu masih tetap tinggi di sekitar 4 persen," pungkasnya.