Tarif yang diterapkan oleh Amerika Serikat (AS) memiliki pengaruh signifikan terhadap perdagangan internasional. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah AS di bawah kepemimpinan Donald Trump mendorong perusahaan-perusahaan asal China untuk memperluas jangkauan mereka ke Indonesia.
Hal ini dilakukan sebagai langkah perlindungan terhadap dampak negatif dari tarif yang diberlakukan oleh AS.
Menurut laporan yang dirilis oleh Yahoo Finance dan dikutip dari Reuters, Gao Xiaoyu, pendiri PT Yard Zeal Indonesia menyatakan bahwa dia telah menerima banyak panggilan dari perusahaan-perusahaan China yang berminat untuk berinvestasi dan membuka operasi di Indonesia. Mereka berupaya untuk melindungi diri dari tarif impor yang tinggi yang ditetapkan oleh AS.
Tarif yang dikenakan oleh AS terhadap barang-barang dari Indonesia mencapai 19 persen, yang setara dengan tarif yang dikenakan kepada Malaysia, Filipina, dan Thailand, serta sedikit lebih rendah dibandingkan dengan tarif Vietnam yang mencapai 20 persen.
Namun, Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan negara dengan populasi terbanyak keempat di dunia, memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh negara tetangganya, yaitu potensi pasar konsumen yang sangat besar.
"Kami cukup sibuk akhir-akhir ini. Kami mengadakan rapat dari pagi hingga malam," ungkap Gao, yang mendirikan Yard Zeal Indonesia pada tahun 2021 dengan hanya empat karyawan, kini telah berkembang menjadi lebih dari 40 karyawan.
"Kawasan industri juga sangat ramai," tambahnya.
Advertisement
Ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,12 persen pada kuartal kedua, melampaui ekspektasi, dan ini merupakan laju tercepat dalam dua tahun terakhir, berdasarkan data yang dirilis oleh pemerintah pekan lalu.
"Jika Anda dapat membangun kehadiran bisnis yang kuat di Indonesia, pada dasarnya Anda telah menguasai separuh pasar Asia Tenggara," ungkap Zhang Chao, seorang produsen asal China yang memasarkan lampu depan sepeda motor di Indonesia, yang merupakan pasar sepeda motor terbesar ketiga di dunia.
Investasi dari China dan Hong Kong ke Indonesia mengalami peningkatan sebesar 6,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai USD 8,2 miliar hingga bulan Juni 2025.
Selain itu, total investasi langsung asing (FDI) juga tumbuh sebesar 2,58 persen selama periode yang sama, mencapai USD 26,56 miliar atau setara dengan Rp 432,6 triliun. Pemerintah juga mengindikasikan bahwa akan ada lebih banyak investasi yang masuk pada semester pertama tahun 2025.
Advertisement
Tantangan yang dihadapi Indonesia masih beragam, termasuk adanya hambatan regulasi, birokrasi yang rumit, pembatasan kepemilikan, infrastruktur yang tidak memadai, serta kurangnya rantai pasokan industri yang lengkap.
Hal ini menjadi faktor yang membuat China tetap menjadi pusat manufaktur selama beberapa dekade. Beberapa investor asing juga mengungkapkan kekhawatiran terkait kebijakan fiskal pemerintah Indonesia yang cenderung populis.
Di sisi lain, stabilitas rupiah menunjukkan perbaikan setelah mengalami penurunan pada bulan Maret, mencapai level terendah terhadap dolar AS sejak bulan Juni 1998. Saat ini, rupiah diperdagangkan sekitar 1 persen di bawah posisi akhir tahun lalu.
Di kawasan industri Subang Smartpolitan yang memiliki luas 2.700 hektar di Jawa Barat, sejumlah eksekutif melaporkan adanya minat dari investor asal China, dengan banyak yang mengajukan pertanyaan mengenai peluang investasi di kawasan tersebut.
Advertisement
Setelah pengumuman kesepakatan perdagangan antara AS dan Indonesia bulan lalu. "Telepon, email, dan WeChat kami langsung dipenuhi dengan permintaan dari pelanggan baru serta agen yang ingin memperkenalkan klien," ungkap Abednego Purnomo, Wakil Presiden Penjualan, Pemasaran, dan Hubungan Penyewa Suryacipta Swadaya yang mengelola Subang Smartpolitan.
"Kebetulan, semuanya berasal dari Tiongkok."
Perusahaan-perusahaan yang terlibat, mulai dari produsen mainan dan tekstil hingga produsen kendaraan listrik, saat ini tengah mencari fasilitas baru, terutama di Jawa Barat.
Provinsi ini merupakan yang terpadat di Indonesia dan memiliki lokasi pelabuhan laut dalam Patimban. Gao menjelaskan bahwa tingginya permintaan dari China telah menyebabkan harga properti industri dan gudang meningkat antara 15 persen hingga 25 persen secara tahunan pada kuartal pertama tahun 2025. Kenaikan harga tersebut merupakan yang tercepat dalam dua dekade terakhir.