Berbeda dengan Anak Muda RI, Gen Z Amerika Pilih Beli Rumah Dibanding Ngontrak
Menurut laporan Redfin pada Januari 2024, tingkat kepemilikan rumah Gen Z kini lebih tinggi dibandingkan generasi Milenial dan Gen X saat usia yang sama.
Belakangan ini, Generasi Z (Gen Z) di Indonesia lebih tertarik dengan sewa properti alias mengontrak ketimbang membeli rumah. Survei Property Perspective from Gen Z yang dirilis oleh Jakpat, mencatat sebanyak 36 persen dari 587 responden Gen Z enggan membeli atau lebih memilih menyewa properti dengan alasan belum siap secara finansial untuk membeli properti.
Namun, tren tersebut tak berlaku di Amerika Serikat (AS). Saat ini, tren pembelian rumah oleh Generasi Z atau kelompok usia 13 hingga 28 tahun tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi akibat pandemi Covid-19.
Padahal, setelah pandemi harga rumah meroket dan pasar perumahan makin tidak ramah bagi pembeli baru. Namun, alih-alih mundur, sebagian besar Gen Z justru memilih untuk melangkah maju ke jalur kepemilikan rumah.
Menurut data dari Intercontinental Exchange, saat ini Gen Z menyumbang satu dari empat kredit rumah untuk pembeli pertama. Bahkan, menurut laporan Redfin pada Januari 2024, tingkat kepemilikan rumah Gen Z kini lebih tinggi dibandingkan generasi Milenial dan Gen X saat berada di usia yang sama.
Susan Wachter, profesor real estat dari Wharton School menyebut tantangan yang dihadapi Gen Z jauh lebih berat dibanding generasi sebelumnya. Dia juga mencatat bahwa kelompok minoritas terdampak secara tidak proporsional oleh krisis keterjangkauan rumah, sehingga banyak yang akhirnya tinggal lebih lama bersama orang tua. Namun, hal ini tidak menghambat Gen Z untuk memiliki hunian sendiri.
Seperti Samantha Garcia (23), yang bersama tunangannya membeli rumah seharga USD 335.000 di kota kecil Redding, California. Sejak 2022, dia disiplin menabung USD 1.000 setiap bulan dan rela meninggalkan Los Angeles, kota tempat dia dibesarkan karena harga rumah di sana terlalu tinggi.
"Saya tahu saya tidak akan pernah bisa beli rumah di LA. Hampir semua rumah keluarga tunggal di sana harganya di atas USD1 juta," ujarnya dilansir CNN.com di Jakarta, Rabu (2/7).
Dapat Bantuan Uang Muka dari Mertua
Garcia sempat terkejut ketika orang tua tunangannya secara tak terduga memberikan bantuan uang muka sebesar USD 25.000. Sesaat kemudian dia menyadari, bahwa properti merupakan investasi yang tepat untuk jangka panjang.
"Kami tidak mengharapkan bantuan, tapi itu sangat membantu kami menjaga kestabilan tabungan," katanya.
Lain halnya dengan Adriana Moorman. Dia memilih jalur berbeda dengan tidak kuliah, dan langsung bekerja tetap di bidang sumber daya manusia. Langkah realistis itu membuatnya lebih cepat mandiri secara finansial dan mampu mempertimbangkan pembelian rumah lebih awal.
Baginya, tekad untuk memiliki rumah dan disiplin untuk mulai menabung sejak dini. Dia meyakini investasi properti diperlukan untuk membangun kekayaan mengingat inflasi pasar perumahan terus meningkat dari waktu ke waktu.