Belum 7 Tahun, Pengguna QRIS Tembus 60 Juta Orang di Indonesia
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa transformasi digital QRIS semakin berkembang, bahkan kini mencakup kerja sama internasional dengan Jepang dan China.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan, QR Indonesia Standard (QRIS) telah mengalami perkembangan yang signifikan sejak pertama kali diluncurkan hampir tujuh tahun lalu.
Saat ini, sistem pembayaran QRIS telah digunakan oleh sekitar 60 juta orang di Tanah Air. Perry mengingat kembali, peluncuran QRIS dilakukan sebelum pandemi Covid-19 merebak, yang menjadi momentum penting dalam memperluas penggunaan pembayaran digital di Indonesia.
"17 Agustus 2019 kita memproklamirkan satu bahasa pelayanan digital pembayaran. Namanya QR Indonesian Standard, namanya QRIS, dibacanya kris, bukan kiyu ris," ungkap Perry dalam acara Inisiasi Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, pada Senin (23/2/2026).
QRIS menjadi tonggak penting karena menghadirkan standar baru yang mengintegrasikan berbagai metode pembayaran QR dari berbagai platform sebelumnya. Melangkah ke tahun 2026, telah tercatat 60 juta pengguna yang memanfaatkan QRIS, menjadikannya semakin dikenal dan diterima oleh masyarakat.
"Sekarang berapa QRIS digunakan? 60 juta pengguna QRIS," jelasnya. Perkembangan ini semakin pesat dengan adanya kerja sama pembayaran lintas batas atau QRIS cross border. Saat ini, QRIS sudah dapat diakses di banyak negara, termasuk Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang, serta segera hadir di Cina dan Korea Selatan.
"QRIS sudah digunakan di mana saja Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang sebentar lagi sudah live di Cina juga Korea Selatan dan kita sedang sambungkan QRIS dengan nusuk di Saudi Arabia dengan India," tambahnya.
36 Persen di Jakarta
Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa lebih dari 36 persen dari total volume transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di seluruh Indonesia berasal dari DKI Jakarta. Sebagian besar transaksi digital yang menggunakan QRIS ini terjadi di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa percepatan digitalisasi dalam sistem pembayaran merupakan salah satu faktor utama yang mendukung pertumbuhan ekonomi di Jakarta.
"Salah satu game changer di perekonomian kita, terutama di DKI Jakarta adalah apabila digitalisasi ini bisa dilakukan dengan cepat ya," ungkap Iwan dalam sebuah pernyataan di Jakarta pada hari Senin, 9 Februari 2026.
UMKM Dominasi Sektor Ekonomi
Berdasarkan informasi dari Bank Indonesia, jumlah pengguna QRIS di DKI Jakarta telah mencapai 6,17 juta jiwa, yang berkontribusi sekitar 10,69 persen dari total pengguna nasional. Selain itu, jumlah merchant atau pelaku usaha yang mengadopsi QRIS di Jakarta tercatat sebanyak 6,58 juta, yang setara dengan sekitar 24 persen dari keseluruhan merchant QRIS di tingkat nasional.
"Untuk volume transaksi sudah mencapai hampir 6 miliar, atau porsinya sekitar 36 persen dari volume transaksi secara nasional. Jadi, lebih dari sepertiga transaksi yang menggunakan QRIS digital di Indonesia itu ada di DKI Jakarta," jelas Iwan.
Tingginya volume transaksi QRIS di Jakarta menunjukkan bahwa sistem pembayaran digital ini sangat mudah diakses dan digunakan oleh masyarakat, terutama oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Iwan menambahkan bahwa sebagian besar transaksi digital yang terjadi menggunakan QRIS berasal dari sektor UMKM.
"Mayoritas transaksi digital itu terjadi di UMKM. Beberapa usaha mikro bahkan sudah melakukan transaksi menggunakan QRIS," kata Iwan.