Banjir Sumatra Tekan Industri Nasional, Menperin Hitung Potensi Nilai Tambah Hilang Rp15 Triliun
Menperin memperkirakan banjir di Sumatera dan Aceh menahan nilai tambah manufaktur nasional hingga Rp15 triliun akibat gangguan logistik dan rantai pasok.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memperkirakan banjir yang melanda wilayah Sumatra dan Aceh berpotensi menahan nilai tambah sektor manufaktur nasional pada kisaran Rp11–15 triliun.
“Nilai tersebut merupakan nilai tambah yang hilang atau tertunda sementara, bukan kerusakan permanen terhadap kapasitas industri nasional,” ujar Agus dalam rapat perdana Kementerian Perindustrian awal 2026 di Jakarta, Jumat (2/1/).
Dalam jangka pendek, tekanan paling terasa dialami subsektor yang bergantung pada kelancaran distribusi regional, antara lain agroindustri, industri makanan dan minuman, kimia dasar, serta industri berbasis komoditas.
Agus menjelaskan, dampak banjir tidak sepenuhnya mencerminkan besarnya basis industri di wilayah terdampak. Sumatra memiliki peran strategis sebagai simpul logistik dan pemasok input antara bagi kawasan industri di wilayah lain, termasuk Pulau Jawa. Gangguan di wilayah tersebut menimbulkan efek berantai terhadap output manufaktur nasional.
“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ketahanan industri nasional tidak hanya ditentukan oleh lokasi pabrik, tetapi juga oleh ketahanan infrastruktur, sistem logistik, dan jaringan distribusi antarwilayah,” katanya.
1.647 Industri Kecil di Aceh Terdampak Bencana
Rapat perdana Kementerian Perindustrian 2026 juga membahas program restarting bagi industri kecil yang terdampak bencana di Sumatra dan Aceh. Langkah ini diarahkan untuk mempercepat pemulihan sektor industri secara terkoordinasi dan berkelanjutan.
Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), Sumatra Utara tercatat memiliki 3.520 industri kecil, 115 industri menengah, dan 490 industri besar.
Di Sumatra Barat terdapat 3.464 industri kecil, 17 industri menengah, dan 78 industri besar, sementara Aceh memiliki 1.954 industri kecil, 7 industri menengah, dan 46 industri besar.
“Dampak paling besar pada sektor IKM terjadi di Aceh dengan 1.647 industri terdampak, diikuti Sumatra Barat sebanyak 367 industri, dan Sumatra Utara sebanyak 52 industri,” ungkap Agus.
Selain industri kecil dan menengah, gangguan juga terjadi pada sektor agroindustri, industri logam, mesin, alat transportasi, elektronik (ILMATE), serta industri kimia, farmasi, dan tekstil.
Menurut Agus, hambatan utama produksi bukan hanya kerusakan fasilitas, tetapi gangguan sistemik pada rantai pasok.
Terputusnya akses jalan dan jembatan, terganggunya distribusi BBM, serta pasokan listrik dan air yang tidak stabil membuat sejumlah industri harus menghentikan produksi sementara atau beroperasi di bawah kapasitas normal.
“Bagi industri manufaktur yang bersifat just-in-time dan padat logistik, gangguan pasokan bahan baku selama beberapa hari saja sudah cukup untuk menghentikan lini produksi dan menimbulkan kehilangan output yang tidak kecil,” pungkasnya.