Dampak Banjir Aceh Timur: Kerugian Perikanan Capai Rp2,64 Triliun, Ribuan Tambak Rusak Parah

Banjir dahsyat di Aceh Timur mengakibatkan Kerugian Perikanan fantastis hingga Rp2,64 triliun. Ribuan tambak rusak parah, mengancam mata pencarian warga pesisir. Bagaimana pemulihannya?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dampak Banjir Aceh Timur: Kerugian Perikanan Capai Rp2,64 Triliun, Ribuan Tambak Rusak Parah
Banjir dahsyat di Aceh Timur mengakibatkan Kerugian Perikanan fantastis hingga Rp2,64 triliun. Ribuan tambak rusak parah, mengancam mata pencarian warga pesisir. Bagaimana pemulihannya? (AntaraNews)

Bencana banjir hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Aceh Timur pada akhir November 2025 telah menimbulkan dampak kerugian yang sangat besar, terutama pada sektor perikanan. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur mengungkapkan bahwa kerugian di sektor ini ditaksir mencapai angka fantastis, yakni Rp2,64 triliun.

Kerugian masif ini terjadi akibat ribuan hektare tambak ikan dan udang, serta tambak budidaya lainnya, terendam air bah selama periode banjir yang cukup panjang. Tidak hanya itu, sarana pendukung vital seperti pintu air dan tanggul tambak juga mengalami kerusakan parah atau bahkan tidak bisa diselamatkan.

Akibatnya, sebagian besar pembudidaya perikanan mengalami gagal panen total, bahkan banyak masyarakat pesisir dan pedesaan kehilangan sumber penghasilan utama mereka. Sektor perikanan, yang merupakan tulang punggung ekonomi lokal, kini lumpuh total dan membutuhkan perhatian serius untuk pemulihan.

Kerugian Perikanan Aceh Timur Akibat Banjir Meluas

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Timur, Afifullah, menjelaskan bahwa kerusakan paling signifikan terjadi pada sektor perikanan. Banjir merendam ribuan hektare tambak ikan dan udang, termasuk tambak budidaya garam masyarakat di sejumlah kecamatan terdampak.

Afifullah menegaskan, "Kerusakan paling signifikan terjadi pada sektor perikanan. Banyak tambak masyarakat rusak berat, kolam budi daya jebol, ikan dan udang hanyut, serta sarana pendukung seperti pintu air, tanggul tambak, dan peralatan budi daya tidak bisa diselamatkan." Kondisi ini menyebabkan sebagian besar pembudidaya perikanan gagal panen secara total.

Laporan sementara yang masuk ke BPBD menunjukkan bahwa kerugian perikanan diperkirakan mencapai Rp2,64 triliun. Angka ini mencerminkan dampak ekonomi yang sangat besar terhadap masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini.

Selain itu, banjir yang berlangsung cukup lama juga mengakibatkan banyak masyarakat pesisir dan pedesaan kehilangan sumber penghasilan sepenuhnya. Aktivitas di sektor perikanan lumpuh total, membuat mereka tidak dapat beraktivitas seperti biasa karena sebagian besar tambak masih terendam.

Ancaman Ekosistem dan Pemulihan Jangka Panjang

Dampak banjir tidak hanya terbatas pada kerugian fisik dan finansial, tetapi juga merusak ekosistem perairan secara signifikan. Afifullah menyebutkan bahwa air banjir yang bercampur lumpur dan limbah menyebabkan kualitas air menurun drastis.

Penurunan kualitas air ini berpotensi memicu kematian massal ikan dalam jangka waktu yang panjang, bahkan setelah banjir surut. "Dampak lanjutan ini tidak bisa dianggap ringan. Setelah banjir surut pun, masyarakat masih membutuhkan waktu dan biaya besar untuk memulihkan tambak agar bisa kembali digunakan," katanya.

Proses pemulihan ekosistem perairan juga memerlukan upaya khusus dan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Situasi ini menambah beban bagi para pembudidaya yang sudah terdampak parah.

Mereka tidak hanya kehilangan aset dan hasil panen, tetapi juga harus menghadapi tantangan pemulihan lingkungan yang kompleks serta biaya yang tidak sedikit untuk mengembalikan kondisi tambak seperti semula.

Harapan Dukungan Pemerintah untuk Pemulihan Ekonomi Lokal

Saat ini, pemerintah daerah masih memfokuskan penanganan tanggap darurat dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi para pengungsi. Namun, BPBD Kabupaten Aceh Timur mendorong adanya perhatian khusus terhadap pemulihan sektor perikanan di masa mendatang.

Afifullah menekankan bahwa sektor perikanan adalah tulang punggung ekonomi masyarakat Aceh Timur. Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat sangat diharapkan, khususnya untuk upaya pemulihan sektor ini.

Banjir hidrometeorologi ini berdampak pada 443 gampong yang tersebar di 24 kecamatan di Kabupaten Aceh Timur. Total warga terdampak mencapai 290.582 jiwa dari 81.603 keluarga, menunjukkan skala bencana yang sangat luas.

Pemulihan sektor perikanan bukan hanya tentang mengembalikan tambak, tetapi juga mengembalikan harapan dan mata pencarian bagi ribuan keluarga yang terdampak. Kolaborasi antarinstansi pemerintah dan masyarakat sangat krusial dalam menghadapi tantangan ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi