Angka Kemiskinan Ekstrem Turun di Era Prabowo, Mentrans Bocorkan Strategi yang Diterapkan Pemerintah
Iftitah menjelaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah keberlanjutan program pengentasan kemiskinan melalui berbagai kolaborasi strategis.
Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara membeberkan capaian signifikan pemerintah dalam menekan angka kemiskinan ekstrem di Indonesia. Dalam kurun waktu satu setengah tahun terakhir, tercatat terjadi penurunan jumlah penduduk miskin ekstrem yang cukup drastis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Iftitah menjelaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah keberlanjutan program pengentasan kemiskinan melalui berbagai kolaborasi strategis. Salah satu indikator keberhasilannya terlihat dari data terbaru yang menunjukkan pergerakan positif pada angka kesejahteraan masyarakat secara nasional.
"Terungkap bahwa ada pengurangan kemiskinan ekstrem dari 3,56 juta manusia menjadi sekarang hampir 2,2 juta. Ini juga salah satu bukti pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam satu setengah tahun masa pemerintahannya fokus sekali dengan masalah pengentasan kemiskinan," kata Iftitah usai peluncuran buku di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (28/4).
Pemerintah Indonesia kini tengah menjajaki kerja sama erat dengan pemerintah China untuk memperkuat sektor pendidikan dan riset pangan. Kerja sama ini mencakup pembangunan sarana pendidikan kejuruan di wilayah timur Indonesia guna mencetak tenaga kerja yang siap pakai.
"Kami tengah bekerja sama secara erat untuk mengupayakan berbagai macam kerja sama. Di antaranya adalah pembangunan SMK di Merauke, Papua, agar pendidikan itu juga bisa menjadi pintu untuk penyediaan lapangan kerja, pada akhirnya outcome-nya adalah pengentasan kemiskinan," jelasnya.
Kerja Sama Sektor Pertanian
Selain pendidikan, sektor pertanian menjadi pilar utama dalam mengejar target swasembada pangan. Iftitah menyoroti pentingnya peningkatan produktivitas lahan melalui riset padi yang sedang dikembangkan bersama mitra internasional untuk memaksimalkan hasil panen petani.
"Agar kualitas padinya bisa betul-betul maksimal dan hasilnya juga bisa lebih baik lagi. Dari yang tadinya misalkan satu hektarnya dua ton, tingkat produktivitasnya bisa enam, tujuh, sampai delapan ton. Ini juga nanti akan ujungnya adalah kepada pengentasan kemiskinan," ujarnya.
Salah satu strategi kunci yang diadopsi dari studi banding di China adalah penerapan industrialisasi dan hilirisasi di kawasan transmigrasi. Menurutnya, pemindahan penduduk harus dibarengi dengan penciptaan lapangan kerja berbasis teknologi agar pendapatan masyarakat meningkat secara signifikan.
"Di sana ada program transmigrasi juga. Memindahkan lebih dari satu juta manusia akibat adanya pembangunan PLTA ya, itu di Yichang. Nah, itu yang paling mengena bagi saya dan mungkin bisa kita kembangkan di Indonesia, itu adalah industrialisasi dan hilirisasi," tuturnya.
Iftitah juga memaparkan potensi besar komoditas hortikultura yang kini mulai menembus pasar internasional. Sulawesi Tengah menjadi salah satu contoh sukses di mana komoditas durian lokal yang dulunya tidak bernilai, kini menjadi produk ekspor unggulan ke China.
"Untuk pertama kalinya tahun ini kita mengekspor durian frozen ke China. Karena market di China itu cukup besar, Rp120 sampai dengan Rp137 triliun. Sementara di Sulawesi Tengah, itu tadinya durian itu melimpah tidak tahu mau dikemanakan begitu," ungkapnya.
Dongkrak Ekonomi Petani
Perubahan pasar ini secara otomatis mendongkrak ekonomi para petani di kawasan transmigrasi secara nyata. Kenaikan harga jual di tingkat petani menjadi bukti bahwa akses pasar global adalah kunci utama dalam menyejahterakan masyarakat di daerah.
"Yang tadinya durian itu satu butirnya di sana dijual hanya Rp4.000 hingga Rp5.000, itu juga belum tentu ada yang beli, sekarang bisa sampai di atas Rp25.000. Otomatis peningkatan pendapatan akan signifikan dengan penurunan angka kemiskinan," ucapnya.
Menanggapi isu penghapusan program studi di perguruan tinggi, Iftitah menegaskan bahwa kementeriannya justru mengembangkan model pendidikan baru melalui 'Transmigrasi Patriot'. Program ini bertujuan mendistribusikan talenta muda berbakat ke wilayah-wilayah strategis pembangunan.
"Kami tidak terimbas dengan itu. Justru yang ingin kami kembangkan melalui program kami namanya Transmigrasi Patriot, itu justru adalah sekolah kehidupan, school of life. Bahwa kita banyak sekali anak-anak pintar yang ada di Jawa, ini jangan semua berkumpul di Jawa," tegasnya.
Iftitah menekankan, kawasan transmigrasi memiliki peran vital dalam menyokong stok pangan nasional. Sinergi antara kementerian teknis dan ketersediaan lahan yang luas menjadi modal kuat Indonesia untuk mandiri secara pangan.
"Di beberapa tempat misalkan untuk padi saja, ketika misalkan Menteri Pertanian mengatakan swasembada beras misalkan, itu ada beberapa tempat titik seperti di Sumatra Selatan, 40% padinya disumbang dari kawasan transmigrasi," pungkasnya.