Kisah Kampung Tanpa Sinar Matahari di Tengah Hingar Bingar Kota Jakarta
Sinar matahari manjadi sesuatu yang mahal bagi penghuni kampung tersebut. Tembok rumah yang berdempetan seakan menolak masuknya sinar matahari walau sedikit.
Jakarta sebagai ibu kota menawarkan sejuta kemegahan nan mewah. Betapa tidak, gedung pencakar langit, moda transportasi publik yang sudah mumpuni dan canggih kerap menjadi daya tarik sendiri.
Namun, seperti kata pepatah, tidak ada gading yang tak retak. Tidak ada yang sempurna. Begitu juga dengan Jakarta. Di balik hingar bingar cap kota metropolitan, Jakarta menyimpan ketidaksempurnannya dalam diam.
Adalah Kampung Pasar Pisang sebuah kawasan padat permukiman penduduk di Taman Sari, Jakarta Barat. Di sana dihuni puluhan kepala keluarga yang mengadu nasibnya di ibu kota. Mirisnya, mereka hidup dengan sedikit sinar matahari. Rumah petakan berhimpitan berdiri di antara lorong sempit yang hanya cukup dilalui satu orang.
merdeka.com mencoba menelusurinya, masuk melalui Jalan Cengkeh, Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat. Begitu masuk, udara lembab terasa. Kondisinya gelap meski saat itu jam di tangan menunjukkan di angka pukul 1 siang.
Tidak hanya gelap, warga juga harus bertahan dari suara bising kereta yang melintas di atas atap rumah mereka. Pantauan di lokasi, kampung tersebut berdiri di bawah tidak jauh dari jalur rel Muara Angke-Jakarta Kota.
Bingung Jemur Bayi
Salah satu warga bernama Irma menuturkan, karena kondisi yang minim sinar matahari, maka para ibu-ibu yang memiliki bayi harus berjalan menyusuri gang sampai menemui titik sinar matahari masuk.
"Kalau mau menjemur bayi itu biasanya di bawah rel kereta yang ada mataharinya, kadang juga di lapangan" ujar Irma yang sudah lama menjadi penghuni Kampung Pasar Pisang tersebut.
Bagi warga di sini, sinar matahari menjadi sesuatu yang mahal.
Susah Parkir Motor
Memasuki gang yang lebih dalam, bukan hanya cahaya yang terbatas melainkan ruang bergerak juga semakin terbatas. Motor hanya bisa parkir sampai depan gang.
"Kalau yang di dalam enggak bisa," ujar ibu Irma yang sedang berdiri depan rumahnya. "Jalanannya kecil, jadi motor ditaruh di lapangan depan," tambahnya
Reporter Magang: Ahmad Subayu