Kampung Tongkol di Jakarta, Siang Bolong Gelap Gulita Warga Wajib Nyalakan Bohlam
Kondisi memprihatinkan di balik megahnya gedung-gedung Jakarta ini terungkap melalui sebuah video dokumentasi yang diunggah di YouTube Purnama Anjar.
Sebuah permukiman padat penduduk di kawasan Jakarta Kota, yaitu Kampung Tongkol, menjadi sorotan karena kondisi lingkungannya yang tak lazim. Wilayah ini diketahui tidak mendapatkan akses sinar matahari yang cukup bahkan di siang hari, memaksa warganya untuk terus menyalakan lampu selama 24 jam.
Kondisi memprihatinkan di balik megahnya gedung-gedung Jakarta ini terungkap melalui sebuah video dokumentasi yang diunggah di YouTube Purnama Anjar.
Dalam penelusurannya, terlihat jelas bagaimana sinar matahari gagal menembus gang-gang sempit di kampung tersebut karena padatnya bangunan rumah warga yang saling berhimpitan.
Dilansir dari tayangan YouTube Purnama Anjar, kondisi gelap ini terjadi bukan karena cuaca mendung, melainkan struktur bangunan yang menutup akses cahaya.
Ketergantungan Pada Bohlam
Akibat minimnya pencahayaan alami, warga setempat memiliki ketergantungan tinggi pada pencahayaan buatan. Lampu bohlam menjadi kebutuhan vital yang harus menyala sepanjang waktu agar aktivitas sehari-hari tidak terganggu.
Di kampung tersebut jika lampu dimatikan, lorong-lorong rumah warga akan menjadi gelap total layaknya malam hari.
"Jadi di dalam ini tuh harus pakai lampu ya, pakai bohlam. Jadi kalau enggak pakai bohlam itu beneran gelap banget," ucap Purnama Anjar dilansir dari Youtubenya, Rabu (19/11).
Tata Ruang yang Padat
Penyebab utama fenomena "kampung tanpa matahari" ini adalah tata ruang yang sangat padat, jarak antar rumah sangat rapat dengan gang yang sempit. Karena itu, sirkulasi cahaya semakin tertutup karena adanya bangunan lantai dua atau pemanfaatan ruang di atas gang untuk keperluan sanitasi warga.
"Setiap tiga rumah sekali ada lorong kayak gini. Buat lantai dua atau enggak kadang-kadang buat WC juga," ujar Purnama Anjar, dilansir dari Youtubenya.
Berhimpitan dengan Rel Kereta Api
Selain masalah pencahayaan, Kampung Tongkol juga berada di lokasi yang cukup berisiko, yakni berbatasan langsung dengan rel kereta api aktif. Atap rumah warga berada tepat di bawah jalur rel, sehingga suara bising dan getaran kereta menjadi makanan sehari-hari.
"Bisa dibilang setiap hari kedengaran suara kereta. Sudah biasa," ungkap Tio seorang anak kecil kampung tongkol, dilansir dari Youtube Purnama Anjar.
Diketahui, lahan yang ditempati warga tersebut mayoritas merupakan tanah milik pemerintah, namun warga tetap bertahan tinggal di sana karena keterbatasan pilihan. Menariknya, di tengah kondisi permukiman yang kumuh dan gelap, terdapat sisa-sisa bangunan bersejarah.
Dalam penelusuran tersebut ditemukan reruntuhan tembok bata merah yang disebut sebagai bekas penjara zaman Belanda.
"Ini gedung penjajahan zaman Belanda, dulu tuh penjara, tapi sekarang biasanya dipake sama anak-anak buat main" ujar anak-anak kecil disana dilansir dari Youtube Purnama Anjar.
Bangunan tua yang kini ditumbuhi pohon beringin tersebut kini beralih fungsi menjadi area bermain bagi anak-anak Kampung Tongkol, meskipun kondisinya tak terawat.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie