Biaya hidup dan sewa tempat tinggal di Jakarta yang kian melambung memaksa sebagian warga mencari alternatif hunian yang terjangkau, meski harus mengorbankan kenyamanan. Hal inilah yang terlihat di Kampung Tongkol, Jakarta Kota.
Di balik kondisinya yang ekstrem, gelap tanpa matahari dan bising karena suara kereta kampung ini tetap menjadi primadona bagi para perantau. Alasan utamanya addalah lokasi yang strategis dan biaya yang sangat murah.
Fakta ini terungkap dalam penelusuran di YouTube Purnama Anjar. Dalam videonya, dijelaskan bahwa Kampung Tongkol sudah lama menjadi tujuan warga yang mencari hunian ramah kantong di tengah kerasnya ibu kota.
"Dulunya banyak warga yang datang ke sini karena nyari tempat tinggal murah dan dekat sama tempat kerja," ungkap Purnama Anjar dalam Youtubenya.
Advertisement
Posisi Kampung Tongkol dinilai sangat strategis bagi pekerja sektor informal karena dekat dengan pusat ekonomi seperti pelabuhan dan pasar.
Selain itu, status tanah yang mayoritas milik pemerintah membuat beban biaya tempat tinggal menjadi sangat ringan, bahkan beberapa warga mengaku tidak perlu membayar sewa tanah.
Advertisement
Posisi Kampung Tongkol dinilai sangat strategis bagi pekerja sektor informal. Lokasinya yang berada di jantung Jakarta Kota memudahkan akses ke berbagai pusat ekonomi vital, sehingga warga bisa menghemat ongkos transportasi.
"Dekat sama tempat kerja, entah di pelabuhan, pasar, atau proyek sekitar kota," tambah Purnama dalam Youtubenya.
Faktor kedekatan dengan tempat kerja ini menjadi magnet kuat, mengalahkan ketidaknyamanan akibat kondisi lingkungan yang padat, sempit, dan minim cahaya.
Advertisement
Selain lokasi yang cukup esktrem, status tanah juga menjadi faktor penentu, tanah kampung tongkol diketahui mayoritas milik pemerintah. Ini yang membuat beban biaya tempat tinggal menjadi minim.
Ketika anak kecil ditanya oleh Purnama "Di sini bayar enggak?," anak kecil itu menjawab “enggak sih bang,” ujar Tio anak kecil dari Kampung Tongkol dilansir dari Youtube Purnama Anjar.
Walaupun mayoritas tanah milik pemerintah, ada juga rumah yang disewakan yang berlaku di beberapa titik.
"Ini bisa ada yang ngontrak, ada yang enggak," ujar Tio dilansir dari Youtube Purnama Anjar.
Advertisement
Penyebab utama fenomena "kampung tanpa matahari" ini adalah tata ruang yang sangat padat, jarak antar rumah sangat rapat dengan gang yang sempit. Karena itu, sirkulasi cahaya semakin tertutup karena adanya bangunan lantai dua atau pemanfaatan ruang di atas gang untuk keperluan sanitasi warga.
"Setiap tiga rumah sekali ada lorong kayak gini. Buat lantai dua atau enggak kadang-kadang buat WC juga," ujar Purnama Anjar.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie