Mentrans Iftitah Berangkatkan 36 Peserta Berlatih Pengentasan Kemiskinan Ekstrem ke Tiongkok
Para delegasi yang menjadi peserta, terdiri dari unsur internal Kementerian Transmigrasi serta akademisi dari 10 universitas terkemuka di Indonesia.
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara melepas 36 peserta pelatihan pengentasan kemiskinan untuk bertolak ke Tiongkok. Kegiatan ini dilaksanakan di Grand Makarti Kementerian Transmigrasi, Jakarta Selatan, Kamis (7/5) kemarin.
Iftitah mengatakan, pelatihan ini dimaksudkan sebagai upaya Kementrans dalam mengimplementasikan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 mengenai percepatan pengentasan kemiskinan di Indonesia.
Para delegasi yang menjadi peserta, terdiri dari unsur internal Kementerian Transmigrasi serta akademisi dari 10 universitas terkemuka di Indonesia.
Universitas itu seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.
"Jadi pada hari ini saya selaku Menteri Transmigrasi akan memberangkatkan 36 peserta pelatihan untuk pengentasan kemiskinan ke Tiongkok. Karena ini menjadi hajat besar Bapak Presiden untuk upaya mengentaskan kemiskinan ini. Bahkan ada khusus instruksi presidennya nomor 8 tahun 2025," kata Iftitah.
Para peserta dijadwalkan berada di Tiongkok selama dua minggu. Disana, mereka akan mempelajari strategi praktik terbaik dari negeri Tirai Bambu dalam menghapus kemiskinan ekstrem.
Pemilihan Tiongkok
Kemudian, pemilihan Tiongkok menjadi negara studi karena negara beribu kota Beijing ini berhasil melakukan transformasi besar dalam empat dekade terakhir hingga mendeklarasikan bebas kemiskinan ekstrem pada 2021.
"Kita ingin belajar best practice itu dan mengimplementasikannya di Indonesia," jelasnya.
Usai sekembali dari Tiongkok, para akademisi dan pelatih ini akan bertugas membekali tim Ekspedisi Patriot Kementrans.
Tim ini nantinya akan diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi, dengan fokus utama pada 10 kawasan di Papua, untuk mendampingi masyarakat selama kurang lebih satu tahun.
Iftitah menekankan, upaya ini ditempuh karena ada pergeseran paradigma dalam program transmigrasi. Di mana fokus utama bukan lagi sekadar perpindahan penduduk, tetapi peningkatan kesejahteraan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja di kawasan transmigrasi.
"Karena hari ini tidak lagi kita artikan ukuran kesuksesan transmigrasi itu dari berapa banyak yang bisa dipindahkan. Tidak. Kita ukuran kesuksesannya adalah berapa banyak yang bisa disejahterakan," tegasnya.
Kolaborasi
Ia berharap, melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah yang kooperatif dan pengembangan potensi ekonomi lokal, kawasan transmigrasi bisa bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri.
Upaya pembangunan ekonomi baru ini bertujuan agar masyarakat di daerah akan betah dan bisa bertahan tanpa harus mencari pundi rupiah dengan bertransmigrasi ke daerah lain.
"Kalau kita bangun ekonominya pasti mereka akan tinggal dan betah," pungkasnya.