Pemerintah Siapkan 500 Ribu PMI Terampil, Program Pelatihan Gratis Dibiayai hingga Rp 40 Triliun
Mukhtarudin menyoroti besarnya peluang kerja di luar negeri, terutama dalam menghadapi bonus demografi.
Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Kemen P2MI) mengadakan pelepasan dan penyematan pin bagi peserta pelatihan wellness therapist di Aula BDI Denpasar, Bali, Kamis (4/12). Menteri P2MI Mukhtarudin menyampaikan kegiatan ini merupakan program quick win Presiden Prabowo untuk menyiapkan tenaga kerja terampil yang siap bersaing di pasar global.
"Jadi orientasinya bekerja di luar negeri. Maka kompetensinya juga standar internasional dan juga bahasanya internasional. Prinsipnya yang dilatih ini siap ditempatkan dalam tahun 2026," ujar Mukhtarudin.
Pelatihan ini diikuti 40 peserta dari berbagai daerah seperti NTT, Jawa, dan Sulawesi. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kompetensi, membuka akses kerja bernilai tinggi, dan mendorong transformasi penempatan PMI ke sektor profesional.
Arahan Presiden Prabowo
Mukhtarudin menegaskan bahwa arahan Presiden menargetkan penyiapan 500 ribu tenaga kerja terampil untuk sektor manufaktur, welder, hospitality, hingga perikanan. Ia juga menyoroti besarnya peluang kerja di luar negeri, terutama dalam menghadapi bonus demografi. Menteri menekankan bahwa peserta beruntung karena seluruh pelatihan dibiayai pemerintah.
"40 peserta ini ada yang dari NTT, Jawa, Sulawesi, datang ke Bali. Kalian beruntung karena negara biayai semuanya," katanya.
Bila ditanggung sendiri, biaya pelatihan bisa mencapai lebih dari Rp 7 juta per orang per bulan, termasuk makan dan akomodasi.
Usai pelatihan, peserta akan menjalani uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat. Mukhtarudin juga mengingatkan pentingnya kesiapan mental, keramahan, dan nilai ketimuran saat bekerja di luar negeri. Ia menegaskan bahwa penempatan PMI dilakukan dengan selektif.
"Menempatkan anak-anak kami enggak asal. Kita profiling… kami tetap memantau dan monitor," ucapnya.
Pastikan Dokumen Lengkap dan Kontrak Dipahami Calon PMI
Ia meminta perusahaan pemberangkatan memastikan dokumen lengkap dan kontrak dipahami calon PMI. "Kalau ada masalah pakai saluran komunikasi kita… Akan dibina," pesannya.
Menteri juga mengingatkan bahwa kerja luar negeri bersifat kontrak, sehingga harus dimanfaatkan untuk membangun pengalaman dan jaringan.
"Banyak pekerja migran yang pulang membangun usaha… jangan konsumtif, ditabung," ujarnya.
Ia mendorong para PMI memanfaatkan pengalaman untuk produktivitas di tanah air, sekaligus menjaga nama baik bangsa.
"Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung… Berikan contoh, bahwa orang Indonesia itu bagus," tegasnya.
Pendanaan Program Quick Win 500 Ribu PMI
Mukhtarudin juga mengungkap kebutuhan anggaran untuk program quick win 500 ribu PMI tahun 2025–2026. Total biaya diperkirakan mencapai Rp35–40 triliun.
"Untuk program quick win yang 500 ribu negara akan menyiapkan tidak kurang untuk pelatihannya Rp23 triliun, belum biaya penempatannya," katanya.
"Biaya penempatannya mungkin kurang lebih Rp19 triliunan lah," katanya.
Program ini menyiapkan PMI untuk berbagai negara tujuan dengan fokus pada sektor profesional. Di Bali, pemerintah melepas puluhan PMI yang telah dilatih sebagai wellness therapist untuk ditempatkan di Maldives dan Turki. Profesi ini kini menjadi kebutuhan global, tidak sekadar gaya hidup.
Menurut Mukhtarudin, PMI dilatih secara profesional, termasuk bahasa dan kompetensi teknis. Upaya ini dilakukan untuk membuka lapangan kerja, mengurangi pengangguran, dan menurunkan kemiskinan.
Ia menegaskan bahwa perlindungan PMI tetap menjadi prioritas. Negara hanya mengirim PMI ke negara dengan perlindungan baik dan tidak berisiko konflik. Selain sektor wellness, permintaan PMI juga tinggi untuk manufaktur, perawat, ABK kapal, hingga welder.
"Kalau negara yang sudah kita tempatkan banyak sekali," ujarnya.
Negara tujuan meliputi Jepang, Korea, Taiwan, Hong Kong, Jerman, Italia, hingga Amerika, tergantung jenis kompetensi yang dibutuhkan.