Pemerintah melalui Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar dan Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) menargetkan penempatan 300 hingga 500 ribu pekerja migran terampil (skilled workers) ke berbagai negara, dengan latar pendidikan SMA dan SMK.
Pria akrab disapa Cak Imin itu memastikan, pemerintah hanya mengirimkan tenaga kerja berkualitas. Tujuannya, demi meminimalisasi risiko pekerjaan sektor domestik yang rentan terhadap persoalan perlindungan.
"Kita tidak ingin (mengirimkan) di bawah SMK atau SMA yang berangkat ke luar negeri. Karena kalau tingkat pendidikan di bawah itu, banyak mengandung risiko, terutama menjadi domestic workers,” ujar Cak Imin.
Cak Imin meyakini, peluang kerja bagi tenaga terampil Indonesia di luar negeri sangat besar, terutama di negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Eropa, hingga Amerika Serikat. Sektor profesi yang dibidik antara lain welder, hospitality, serta tenaga kesehatan.
"Potensi market-nya memang sangat besar dan bagus. Gajinya tinggi, jaminan sosial dan asuransinya juga baik. Jadi kita mendorong karena peluangnya tinggi dan bagus,” kata dia.
Advertisement
Cak Imin memastikan, dalam waktu dekat pemerintah akan menuntaskan anggaran dibutuhkan. Termasuk dengan menggelar rapat dengan para duta besar RI di berbagai negara guna memetakan kebutuhan tenaga kerja dan menyusun skema business process yang lebih detail terkait rekrutmen dan pemberangkatan yang dijadwalkan dalam pertengahan tahun ini.
"InsyaAllah mulai April, Juni, Juli, September sudah mulai siap memberangkatkan tenaga kerja skilled ke berbagai negara," kata Cak Imin.
Advertisement
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menyebut, potensi ekonomi dari penempatan pekerja migran mencapai Rp253 triliun berdasarkan tahun 2024 dari 253 ribu penempatan pekerja.
"Kemudian pada tahun 2025, berdasarkan data Bank Indonesia, (remitansi) naik 14 persen. Jadi kurang lebih Rp288 triliun remitansi yang masuk ke Indonesia," jelas Mukhtarudin.
Mukhtarudin optimis, remitansi bermanfaat untuk menggerakkan ekonomi di tingkat grassroot. Dengan tingginya remintansi, maka daya beli masyarakat, kemudian juga menumbuhkan sektor ekonomi usaha mikro dan juga menggerakkan ekonomi keluarga.
"Jadi dia langsung uangnya masuk ke masyarakat sehingga daya beli terdongkrak, salah satunya dari remitansi. Di samping dari government spending dari uang APBN, APBD, kemudian dari proses investasi, juga ada remitansi. Inilah yang mendukung daya beli di tingkat grassroot kita,” dia menandasi.