Airlangga: Ekonomi Indonesia Siap Lepas Landas Menuju Pertumbuhan 8 Persen
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yakin Ekonomi Indonesia siap lepas landas mencapai 8 persen dalam dua tahun, didukung reformasi struktural dan berbagai stimulus. Apa saja strateginya?
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimis bahwa Indonesia siap lepas landas menuju pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dalam dua tahun ke depan. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2).
Airlangga menekankan pentingnya reformasi struktural yang berkelanjutan sebagai kunci untuk mencapai target ambisius ini. Ia menganalogikan, "Seperti pesawat, kita pernah mau take off di tahun 1998 tetapi ada gangguan internasional." Ini menggambarkan kesiapan Indonesia menghadapi tantangan global saat ini.
Target pertumbuhan ekonomi ini akan diwujudkan melalui pengoptimalan berbagai mesin pertumbuhan domestik dan dukungan kebijakan yang terprediksi. Hal ini diharapkan mampu menciptakan fondasi ekonomi yang lebih kokoh dan berkelanjutan.
Fondasi Kuat untuk Akselerasi Ekonomi
Airlangga Hartarto meyakini bahwa Indonesia memiliki fondasi yang kokoh untuk mencapai fase lepas landas ekonomi. Fondasi ini didukung oleh landasan investasi yang kuat, penyederhanaan birokrasi, serta penegakan hukum yang konsisten, sebagaimana diarahkan Presiden RI Prabowo Subianto.
Di tengah perlambatan ekonomi global, Indonesia menunjukkan kinerja yang impresif. Negara ini mencatat pertumbuhan tertinggi kedua di antara negara-negara G20 pada kuartal keempat 2025, setelah India, dengan pertumbuhan tahunan (yoy) sebesar 5,11 persen.
Pertumbuhan ekonomi yang solid ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, didukung stimulus ekonomi yang tepat sasaran, stabilitas harga, serta peningkatan mobilitas masyarakat selama hari besar keagamaan. Konsumsi lembaga nonprofit, investasi, dan belanja modal pemerintah juga mencatatkan pertumbuhan signifikan.
Belanja pemerintah pada program prioritas dan stimulus ekonomi berperan vital dalam menjaga permintaan domestik. Ini sekaligus menjadi penyangga terhadap risiko perlambatan ekonomi global.
Mesin Pertumbuhan dan Target Sektor Prioritas
Untuk mencapai target pertumbuhan 8 persen, Airlangga menyebutkan perlunya mengoptimalkan mesin pertumbuhan seperti belanja pemerintah dan belanja masyarakat, serta investasi dari pelaku usaha. Peran Danantara juga harus bergerak harmonis dan saling mendukung.
Kebijakan yang terprediksi dan sistem keuangan yang lebih dalam, baik perbankan maupun pasar finansial, turut mendukung mesin pertumbuhan ini. Pemerintah juga terus mengoptimalkan kinerja ekspor dengan membuka akses ke lebih banyak negara.
Sebagai contoh, di sektor tekstil, jika semua akses dibuka dalam 10 tahun ke depan, diperkirakan bisa meningkat 10 kali lipat. Ini akan menciptakan lebih banyak kesempatan kerja dan menunjukkan potensi besar dari diversifikasi pasar ekspor.
Ke depan, pertumbuhan ekonomi tahun 2026 ditargetkan berada pada kisaran 5,4-5,6 persen. Fokus utama akan diberikan pada sektor pertanian, manufaktur, digital, dan energi, serta implementasi program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan Tiga Juta Rumah.
Peran Sektor Keuangan dan Diplomasi Ekonomi
Sektor keuangan, khususnya pasar modal, diharapkan semakin berperan sebagai enabler pertumbuhan ekonomi. Ini dilakukan melalui pendalaman pasar, peningkatan porsi saham publik, penguatan transparansi kepemilikan, serta perluasan ruang investasi bagi dana pensiun dan asuransi guna meningkatkan likuiditas.
Di bidang diplomasi ekonomi, Indonesia terus memperluas akses pasar melalui berbagai perjanjian perdagangan dan kemitraan strategis. Contohnya adalah Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dan Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA).
Selain itu, Indonesia juga membangun kerja sama dengan kawasan Eurasia, kemitraan Economic Growth Partnership (EGP) dengan Inggris, serta rencana penyelesaian kerja sama dengan Amerika Serikat (AS). Upaya ini bertujuan untuk memperkuat integrasi dan daya saing ekonomi nasional di pasar global.
Perkembangan ekonomi yang positif ini juga diiringi dengan perbaikan indikator sosial. Hal ini tercermin dari penurunan tingkat kemiskinan, membaiknya rasio gini, serta turunnya tingkat pengangguran dan meningkatnya penyerapan tenaga kerja. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Sumber: AntaraNews