Adira Finance 'Wait and See' Perluas Pembiayaan EV, Kenapa? Ini Alasannya!
Adira Finance bersikap 'wait and see' dalam perluasan pembiayaan EV, menanti kejelasan regulasi pemerintah terkait insentif kendaraan listrik. Apa dampaknya bagi pasar?
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (Adira Finance) mengambil sikap hati-hati atau wait and see dalam memperluas pembiayaan kendaraan listrik (EV). Keputusan ini diambil seiring dengan rencana penerapan sejumlah regulasi baru dari pemerintah.
Perusahaan pembiayaan tersebut masih menantikan kejelasan terkait regulasi pemerintah mengenai insentif kendaraan listrik. Kebijakan ini mencakup baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat yang beredar di pasar Indonesia.
Dalam sebuah temu media yang diselenggarakan di Jakarta pada Minggu, Head of Syariah Adira Finance, Yusron, menjelaskan situasi terkini. Ia menyebutkan bahwa sektor kendaraan listrik roda dua saat ini belum menunjukkan stabilitas, baik dari sisi pasar maupun regulasi yang mengaturnya.
Tantangan Pembiayaan Motor Listrik
Yusron menyoroti bahwa pencabutan subsidi untuk motor listrik telah menciptakan ketidakpastian di kalangan pelaku industri. Kondisi ini membuat para produsen dan distributor masih dalam tahap menyesuaikan strategi pemasaran mereka.
"Regulasinya kan sudah mulai dicabutin subsidinya. Nah, para pelakunya (industri) juga belum settle untuk memasarkan ini, jadi kami wait and see aja. Kita ngikutin pergerakannya," kata Yusron.
Adira Finance memilih untuk mengikuti dinamika pasar dan regulasi yang terus berubah. Mereka tidak ingin terburu-buru dalam mengambil langkah strategis yang berpotensi merugikan di tengah ketidakpastian ini.
Situasi ini menunjukkan perlunya kejelasan kebijakan pemerintah yang lebih stabil. Hal ini penting untuk mendorong pertumbuhan pasar motor listrik yang lebih terencana dan berkelanjutan di masa depan.
Tren Positif Mobil Listrik, Namun...
Meskipun ada tantangan pada sektor motor listrik, Yusron mengungkapkan bahwa pembiayaan mobil listrik justru menunjukkan tren yang positif. Pertumbuhan ini terutama terlihat signifikan di wilayah Jabodetabek.
Infrastruktur pendukung dan jaringan dealer yang lebih lengkap di Jabodetabek menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ini. Kondisi ini berbeda dengan daerah lain yang mungkin belum memiliki fasilitas serupa.
"Kira-kira (tumbuh) 30 persenan untuk mobil listrik, terutama wilayah Jabo (Jakarta Bogor), karena enggak merata pak. Yang paling kencang ini di wilayah Jabo, di wilayah Jabo ini sangat kelihatan banget (pertumbuhannya)," ujarnya.
Namun, Adira Finance tetap memantau perkembangan kebijakan terbaru pemerintah terkait subsidi dan insentif kendaraan listrik. Perhatian khusus diberikan pada mobil listrik impor utuh (Completely Built-Up/CBU) yang akan datang.
Menanti Kebijakan Insentif Pemerintah
Pemerintah berencana mengeluarkan regulasi baru yang dapat mempengaruhi pasar mobil listrik. Salah satunya adalah terkait insentif bagi mobil listrik CBU yang tidak memiliki fasilitas produksi di dalam negeri.
"Roda empat mulai membaik, tapi kan mau ada regulasi lagi tuh terkait roda empat bahwa yang tidak punya pabrik, subsidinya akan dicabut. Nah, kita akan ngikutin aja dinamika ini," tambah Yusron.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menyatakan tidak akan memperpanjang insentif untuk mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) impor utuh mulai tahun 2026. Insentif ini hanya akan diberikan hingga akhir Desember 2025.
Insentif tersebut berupa pembebasan bea masuk dan keringanan PPnBM serta PPN. Namun, perusahaan penerima manfaat insentif diwajibkan untuk melakukan produksi dalam negeri dengan rasio 1:1 terhadap jumlah kendaraan CBU yang diimpor.
Sumber: AntaraNews