Penjualan Mobil Listrik Bekas Kurang Diminati, Depresiasi Harga Jadi Penyebab Utama

Meskipun tren kendaraan listrik baru terus menunjukkan pertumbuhan positif, penjualan mobil listrik bekas justru lesu. Apa saja faktor yang membuat minat terhadap penjualan mobil listrik bekas ini masih sangat rendah di pasaran?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Penjualan Mobil Listrik Bekas Kurang Diminati, Depresiasi Harga Jadi Penyebab Utama
Direktur OLXmobbi, Agung Iskandar, mengungkapkan penjualan mobil listrik bekas masih minim peminat. Apa saja faktor yang membuat pasar kendaraan elektrik seken belum bergairah di Indonesia? (AntaraNews)

Pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia menunjukkan dua sisi yang kontras. Sementara penjualan mobil listrik baru terus mencatat tren positif dan menarik perhatian konsumen, segmen kendaraan listrik bekas justru belum menunjukkan geliat yang signifikan. Kondisi ini menjadi sorotan utama di tengah upaya pemerintah mendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan.

Agung Iskandar, Direktur OLXmobbi, mengungkapkan bahwa penjualan kendaraan bekas di segmen elektrik masih sangat minim. Data terbaru menunjukkan bahwa iklan kendaraan listrik hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total iklan yang ada di platform OLXMobbi. Ini mengindikasikan bahwa jumlah unit yang ditawarkan di pasar sekunder masih sangat terbatas.

Minimnya minat pada penjualan mobil listrik bekas ini disebabkan oleh beberapa faktor krusial. Salah satu alasan utama adalah keengganan pemilik untuk menjual kendaraan mereka akibat penurunan harga yang cukup drastis atau depresiasi. Fenomena ini menjadi penghambat utama bagi perputaran unit mobil listrik di pasar bekas.

Depresiasi harga menjadi momok bagi pemilik mobil listrik yang ingin menjual kembali kendaraannya. Agung Iskandar menjelaskan bahwa penurunan harga ini dapat mencapai hingga 50 persen dari harga baru. Angka depresiasi yang signifikan ini membuat pemilik merasa 'sayang' untuk melepas mobil listrik mereka, terutama karena teknologi EV masih relatif baru di pasar Indonesia dalam dua tahun terakhir.

Sebagai contoh, Hyundai IONIQ 5 keluaran tahun 2022 yang harga barunya cukup tinggi, kini diperkirakan memiliki nilai jual sekitar Rp250 juta hingga Rp350 jutaan di pasar bekas. Penurunan serupa juga dialami oleh Wuling Air Ev, yang populasinya cukup banyak di Indonesia. Depresiasi yang tajam ini tentu memengaruhi keputusan pemilik untuk menjual atau mempertahankan kendaraan mereka.

Selain masalah depresiasi harga, konsumen yang tertarik pada segmen mobil listrik bekas juga menghadapi kendala dalam pembiayaan. Sebagian besar perusahaan pembiayaan di Indonesia masih belum sepenuhnya percaya untuk membiayai pembelian kendaraan listrik bekas. Hal ini mempersulit calon pembeli yang membutuhkan dukungan finansial, sehingga memperlambat transaksi di pasar sekunder.

Meskipun pasar mobil listrik bekas secara keseluruhan masih lesu, ada beberapa model yang mendominasi daftar iklan di OLXMobbi. Kendaraan seperti Wuling Air Ev dan Hyundai Ioniq menjadi yang paling sering ditemukan dalam iklan penjualan. Hal ini tidak mengherankan mengingat popularitas dan populasi kedua model ini yang sudah cukup tinggi di pasar otomotif Indonesia.

Tingginya populasi Wuling Air Ev dan Hyundai Ioniq di jalanan berkontribusi pada ketersediaan unit di pasar bekas. Namun, dominasi ini belum mampu mendongkrak total volume penjualan mobil listrik bekas secara keseluruhan. Tantangan depresiasi dan pembiayaan tetap menjadi faktor penentu yang menghambat pertumbuhan segmen ini, meskipun ada model-model yang lebih dikenal.

Untuk mengatasi rendahnya minat pada penjualan mobil listrik bekas, diperlukan solusi komprehensif. Edukasi pasar mengenai nilai jangka panjang kendaraan listrik, skema pembiayaan yang lebih fleksibel, serta kebijakan yang mendukung stabilitas harga di pasar sekunder dapat menjadi langkah-langkah penting ke depan. Hal ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pasar mobil listrik bekas yang lebih sehat dan menarik bagi konsumen maupun penjual.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi