Tak Sengaja Gores Mobil Kiai, Bocah 9 Tahun di Probolinggo Dibanting Guru Ngaji
Seorang guru mengaji di Probolinggo diduga melakukan kekerasan terhadap anak berusia 9 tahun hanya karena bocah tersebut membuat goresan pada mobil kiai.
Seorang santri berusia 9 tahun yang dikenal dengan inisial MFR, berasal dari Kelurahan Triwung Kidul di Kota Probolinggo, menjadi korban kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan oleh guru mengajinya. Insiden ini berawal dari masalah kecil, di mana MFR diduga dibanting oleh SHL hanya karena secara tidak sengaja menggores mobil milik seorang kiai yang bernama AZK.
Aksi kekerasan yang terjadi di dalam musala tersebut sempat terekam dalam video dan viral di media sosial, sehingga memicu reaksi negatif dari masyarakat. Kasat PPA-PPO Polres Probolinggo Kota, AKP Rini Info Nula Krisna, menegaskan bahwa pihaknya akan serius dalam menyelidiki kasus ini. Serangkaian olah tempat kejadian perkara dan pemeriksaan saksi kunci telah dilakukan untuk memperkuat bukti hukum.
Rini menambahkan, pihak kepolisian telah mengumpulkan dokumentasi dari lokasi serta kendaraan yang terlibat dalam insiden tersebut. Pemeriksaan juga telah dilakukan terhadap anak kiai yang merekam kejadian, pemilik mobil tersebut, serta saksi-saksi lain yang berada di lokasi.
"Kami terus melengkapi keterangan saksi dan alat bukti sebelum mengambil langkah hukum selanjutnya terhadap terlapor. Proses penyelidikan kami lakukan secara transparan," tegas AKP Nila pada Jumat (27/3/2026).
Kini, publik menantikan tindakan tegas hukum terhadap pengajar yang seharusnya melindungi anak-anak, namun justru berperilaku kekerasan terhadap mereka.
Korban Trauma Berat
Saat ini, pihak kepolisian tidak hanya fokus pada penegakan hukum bagi pelaku, tetapi juga mengutamakan pemulihan kondisi fisik dan psikologis korban yang mengalami trauma berat. Satuan PPA-PPO Polres Probolinggo Kota segera berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) setempat untuk memastikan bahwa MFR mendapatkan pendampingan psikologis yang intensif setelah mengalami kekerasan di tempatnya belajar agama.
Selain masalah psikologis, ancaman cedera serius pada fisik korban juga menjadi perhatian penyidik. MFR dijadwalkan untuk menjalani pemeriksaan CT Scan di RSUD Waluyo Jati Kraksaan guna mendeteksi kemungkinan kerusakan saraf akibat benturan keras saat dibanting oleh oknum ustaz berinisial SHL.
"Besok anak saya akan di-CT Scan. Tujuannya untuk mengetahui apakah benturan di kepala itu berdampak ke saraf atau tidak. Ini juga menjadi tambahan alat bukti kuat bagi kepolisian," ungkap Sulaiman, ayah korban.