Profil Sara Duterte, Wapres Filipina yang Dimakzulkan Usai Cekcok dengan Presiden
Artikel ini mengulas sosok Sara Duterte, sebagai tokoh politik kontroversial yang baru saja dimakzulkan.
Wakil Presiden Filipina Sara Duterte. (Dok. AFP)
(@ 2024 merdeka.com)Sara Duterte-Carpio, atau yang lebih dikenal sebagai Inday Sara, menjadi sorotan dunia setelah pemakzulannya sebagai Wakil Presiden Filipina pada 5 Februari 2025.
Perempuan kelahiran 31 Mei 1978 ini, yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Pendidikan, merupakan Wakil Presiden perempuan ketiga dalam sejarah Filipina.
Namun, perjalanan politiknya yang penuh kontroversi berujung pada proses pemakzulan yang mengejutkan banyak pihak. Tidak banyak orang yang mengetahui bagaimana latar belakang Sara.
Artikel ini mengulas perjalanan karier politik Sara Duterte-Carpio, termasuk kontroversi yang menimpanya hingga puncaknya pada pemakzulan di DPR Filipina pada Februari 2025. Simak ulasannya sebagai berikut.
Sosok Sara Duterte: Biografi dan Latar Belakang
Sara Zimmerman Duterte, putri dari mantan Presiden Rodrigo Duterte, memulai kariernya sebagai pengacara. Pendidikan dan latar belakang keluarganya memberikannya akses dan pengaruh dalam kancah politik Filipina.
Meskipun dikenal dengan citra yang kuat dan tegas, ia juga menghadapi berbagai kritik dan kontroversi sepanjang kariernya. Kehidupan pribadinya relatif tertutup, namun pengaruhnya dalam politik Filipina tidak dapat diabaikan.
Sebagai seorang pengacara, Sara Duterte memiliki pemahaman mendalam tentang hukum dan sistem pemerintahan. Hal ini menjadikannya sosok yang berpengaruh dalam perumusan kebijakan dan strategi politik.
Namun, latar belakang keluarganya juga seringkali menjadi sorotan dan dikaitkan dengan berbagai kontroversi yang menimpanya.
Karier Politik dan Kontroversi
Sebelum menjabat sebagai Wakil Presiden, Sara Duterte telah meniti karier politik yang cukup panjang. Ia pernah menjabat sebagai Wali Kota Davao, posisi yang sama dengan ayahnya sebelum menjadi Presiden.
Masa jabatannya sebagai Wali Kota Davao ditandai dengan berbagai program dan kebijakan, namun juga diwarnai kontroversi. Beberapa kebijakannya menuai kritik, sementara yang lain mendapat pujian.
Meskipun demikian, ia berhasil membangun basis dukungan yang kuat di Davao dan sekitarnya.Kontroversi yang menyelimuti Sara Duterte tidak hanya terbatas pada kebijakannya.
Ia juga seringkali menjadi sorotan media karena pernyataannya yang kontroversial dan sikapnya yang tegas. Hal ini membuatnya menjadi tokoh yang dicintai sekaligus dibenci oleh banyak orang.
Beberapa pernyataannya menuai kecaman dari berbagai kelompok masyarakat, sementara yang lain justru mendapat dukungan.
Perjalanan karier politiknya juga diwarnai oleh berbagai tuduhan, termasuk penyalahgunaan dana publik dan dugaan keterlibatan dalam kegiatan yang melanggar hukum.
Meskipun ia selalu membantah semua tuduhan tersebut, kontroversi ini tetap melekat dan mempengaruhi citranya di mata publik. Namun, dukungan yang kuat dari basis konstituennya membantu menjaga popularitasnya.
Pemakzulan Usai Cekcok dengan Presiden Filipina
Pemakzulan Sara Duterte pada Rabu, 5 Februari 2025 menjadi klimaks dari berbagai kontroversi yang telah menimpanya. Proses pemakzulan ini diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Filipina menyusul serangkaian tuduhan yang diajukan terhadapnya.
Tuduhan yang diajukan, termasuk penyalahgunaan dana publik dan perencanaan pembunuhan Presiden Ferdinand Marcos Jr., masih menjadi perdebatan publik.
Banyak anggota DPR yang mendukung pemakzulan ini merupakan sekutu Presiden Marcos Jr. Hal ini memicu spekulasi tentang adanya motif politik di balik pemakzulan tersebut.
Sara Duterte sendiri secara konsisten membantah semua tuduhan dan menyebut langkah-langkah yang diambil terhadapnya sebagai dendam politik. Ia mengklaim bahwa pemakzulan ini merupakan upaya untuk menyingkirkannya dari panggung politik.
Pemakzulan Sara Duterte-Carpio menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat Filipina. Beberapa pihak mendukung langkah DPR, sementara yang lain mengecamnya sebagai tindakan yang tidak adil dan bermotif politik.
Kasus ini menjadi sorotan dunia dan menimbulkan pertanyaan tentang kondisi politik dan demokrasi di Filipina. Proses hukum selanjutnya akan menentukan nasib politik Sara Duterte-Carpio dan dampaknya terhadap stabilitas politik Filipina.